Vonis Kematian

Vonis Kematian

Author

Meyta Sutanto

meyqiyut@yahoo.com


Ilustrasi oleh: Budi Setiawan

“Win!!” Terdengar teriakan perempuan dengan suara cempreng dari kejauhan. Aku menoleh sekilas, Tiara berlari mendekatiku, bergegas aku melangkah lebih cepat menuju parkiran motor sambil menghisap dalam-dalam rokok yang masih menyala.

“Win! Tungguin gue!” Teriaknya lagi. Terpaksa aku berhenti menunggunya. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menghindar untuk sementara waktu.

“Kenapa sih lo? Gue mau nebeng!” Ucapnya padaku setengah marah. Aku diam saja, mengisyaratkannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tiara adalah sahabatku sejak SMA, beruntung kami dapat bersama kembali dalam satu kampus dan jurusan yang sama.

“Win, gue seneng deh. Waktu responsi anatomi manusia, gue sukses jawab semua bagian mayat yang ditunjuk kak Lukman.” Ujarnya mengoceh di belakangku. Aku sempat menelan ludah ketika Tiara mengucapkan kata mayat persis di telingaku.

“Win, lo kok diam aja sih? Sariawan?” Aku hanya mengangguk menjawabnya.

“Makanya Win, sering-sering makan buah dong. Jangan cuma ngisep rokok doang kerjaan lo. Calon dokter kok gak bisa jaga kesehatan. Calon dokter kok ngerokok!” Ujarnya, lagi-lagi aku merasa disentil. Aku menghentikan mobilku persis di depan pagar rumah Tiara.

“Makasih ya, Win. Lo jangan lupa banyakin konsumsi vitamin C ya.” Kata Tiara mengingatkan, sekali lagi aku hanya mengangguk.

Aku melaju pelan, meninggalkan Tiara. Sebelum ujian responsi, aku pergi menemui salah satu dosenku. Beliau adalah dokter spesialis bedah mulut, drg. Arini, M.Sc. Aku mencoba berkonsultasi masalah pribadiku. Sudah 3 bulan sariawan di lidahku tidak kunjung sembuh. Mulutku baunya kian hari makin tidak sedap. Bertambahnya hari makin meluas lukanya. Seringkali aku diam, menggeleng atau mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang lain. Terkadang memakai masker, karena aku sendiri risih dengan kondisi mulutku saat ini.

“Erwin, sejak kapan kamu merokok?” Tanya beliau ketika selesai melakukan pemeriksaan padaku. Aku tidak heran beliau tau aku merokok, meski tidak pernah sekalipun aku menghisap batang tembakau itu di area kampus. Semua cukup terlihat dari penampakan diriku dengan badan kurus dan bibir yang menghitam.

“Hampir 7 tahun bu.” Jawabku layu.

“Itu waktu yang cukup singkat untuk sebuah penyakit, dengan sangat menyesal harus saya sampaikan diagnosa ini.” Ujar bu Arini tertahan sejenak. Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan nyali untuk mendengar kata selanjutnya dari Dokter Arini.

“Memang perlu observasi lebih lanjut dari penyakit yang kamu derita ini. Tapi saya rasa, ini bukan sariawan biasa.” Lanjutnya tetap tenang.

“Saya menduga, kamu terkena kanker mulut ganas. Tapi hanya dugaan sementara, tentunya kamu harus memeriksannya lagi ke rumah sakit dengan peralatan yang lebih lengkap.” Suaranya yang terdengar damai itu justru seperti sambaran petir bagiku. Kanker mulut? Ganas? Apa ini ada kaitannya dengan kebiasaanku menghisap tembakau?

“Erwin, kamu oke?” Tanya Dokter Arini, membuyarkan lamunanku.

“Tidak perlu cemas, segera saja diperiksakan agar lebih cepat ditangani.” Ujarnya, ketika melihat wajahku yang tiba-tiba memucat. Aku bergeming. Dokter Arini menyodorkan sebuah kartu nama.

“Ini teman kuliah saya dulu, dia lebih expert dalam hal ini. Temui dia di rumah sakit tempatnya praktek. Semoga bisa membantu kamu, Erwin.” Aku mengangguk berpamitan dan keluar ruangannya. Rasanya bumi bergoncang tanpa henti. Tubuhku sempoyongan, pandanganku sedikit pudar karena air yang menganak di mataku.

Setelah mengantar Tiara, aku melaju mobilku menuju rumah sakit yang disarankan oleh Dokter Arini.

“Selamat siang, saya ingin membuat janji dengan Dokter Nugroho.” Ucapku pada resepsionis rumah sakit.

“Atas nama siapa?” Tanya suster itu.

“Erwin.” Jawabku singkat.

“Oh Pak Erwin, mari saya antarkan. Dokter Arini sudah menelpon untuk segera menangani Pak Erwin.” Ujar suster itu. Aku sedikit terkejut, apa sebegitu daruratnya kah keadaanku ini hingga Dokter Arini pun turun tangan langsung? Tanyaku dalam hati. Aku bukan orang awam di dunia kedokteran. Aku hampir memasukin semester 6, sedikit banyak aku mengerti tindakan yang dilakukan dengan segera ini.

Akhirnya, kini aku berada di ruangan Dokter Nugroho, bersiap untuk vonis kematian.

*SELESAI*

n/b: Tulisan ini diikut sertakan pada lomba Diary Sang Zombigaret

Iklan