Wanita

Wanita

Aku duduk menghadap keseluruh penumpang APTB (Angkutan Penumpang Terintergrasi Busway), duduk persis di belakang supir dan menghadap ke semua penumpang yang ada di dalam bus ini. Seolah semua mata hanya tertuju dengan aku. Masker hijau operasi masih setia bertengger menutup wajahku. Karena aku sendiri tidak terbiasa di tempat umum dengan bau khas masing-masing orang. Aku memperhatikan orang-orang di sekitar, ada yang tidur, ada yang sibuk dengan gadget mereka, ada yang sedang dirangkul oleh pasangannya mesra sekali, ada yang sedang mengobrol dengan temannya, dan ada juga yang sedang menawarkan produk MLM pada penumpang disampingnya. Perempuan modis,dengan dandanan yang sangat kontras dari seluruh penumpang yang ada di dalam bus ini, sedang sibuk berbisik halus menjelaskan lembaran panjang yang dibawanya pada seorang ibu muda berkacamata. Perhatianku tidak lepas dari mereka sedari perjalanan dimulai hingga keduanya berpisah. Sudut mataku awas melihat setiap gerak gerik mereka, dan telingaku seolah menjadi tajam seketika menguping pembicaraan. Tidak sopan memang, tapi ini caraku untuk mengusir jenuh dengan perjalanan panjang, Jakarta-Bogor. Hatiku masih terlalu rindu untuk berpisah dengan “mas”. Sesekali handphoneku berdering tanda pesan masuk. Mas selalu menanyakan dimana posisiku, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang. Selalu aku tidak pernah kuat menahan air mata untuk menganak dipelupuk mata. Kemudian jatuh, untung saja tertangkap oleh maskerku dengan cepat. Berharap tidak ada seorang matapun yang menangkap jatuhnya bulir bening itu.

Lalu perhatian aku kembalikan lagi pada dua perempuan di hadapanku. Yang seorang sedang gencar menjalankan bisnisnya. Yang seorang sedang galau dengan permasalahan dirinya dan masuk kedalam perangkap mangsa. Perlahan mataku menangkap tas dengan tulisan suatu produk kecantikan. Jelas sudah permasalahan wanita kedua. Ketidakpercayaan terhadap dirinya membuatnya mudah terhasut menjadi pundi uang bagi wanita pertama yang oportunis. Handphoneku kembali berdering, lagi-lagi air mataku menggenang. Pesan masuk dari mas. Aku pejamkan mata ini perlahan untuk menahan haru. Hatiku terlalu sensitif dan rapuh. Berusaha kuat dan tegar saat aku katakan ”Aku bisa pulang sendiri mas. Mas istrahat aja.”

Benar-benar butuh perjuangan untuk mengalahkan egoku sebagai seorang wanita. Karena dia sudah cukup berjuang untukku. Maka mungkin dengan sedikit waktu yang aku berikan, bisa membayar perlahan perjuangan itu walau tanpa diminta. Tidak tega aku membuatnya berjalan jauh mengantar hanya untuk memastikan aku baik-baik saja, melihatnya berdiri berjam-jam dan pulang kelelahan. Tidak, tidak lagi. Karenanya aku harus menjadi berani untuk waktu tertentu.

Dalam satu keadaan, dan tempat begitu banyak fenomena perempuan yang aku lihat. Seorang wanita karier yang semangat memperluas jaringan dimanapun dia berada, adapula wanita yang selalu meminta perlindungan laki-lakinya, dimanja dengan rangkulan kesatrianya, juga wanita yang terkadang tidak percaya diri dengan penampilannya yang telah terlahir cantik, dan ada wanita yang sensitive denganperasaannya. Semua wanita yang terekspresi dalam busway hari ini adalah penggambaran wanita kebanyakan yang umum. Walau mungkin tidak semuanya seperti itu, tetapi kebanyakan. Banyak ragam wanita yang belum terungkap, karena sebagian mereka “tertidur” diam di dalam bus ini. Yang mungkin sedang sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Makhluk yang tidak bisa dimengerti dengan mudah, karena dasarnya mereka sendiri susah untuk memahami kemauan diri mereka. Busway ini perlahan menurunkan satu persatu penumpangnya. Hingga menyisakan aku dan beberapa penumpang lainnya. Aku diam dalam lamunanku, berlari kearahnya. Aku masih rindu.

*SELESAI*

Iklan
Landing

Landing

Telingaku mendenging, nyeri.  Airplane ear berulang kali sudah aku hadapi. Tapi belum pernah separah ini.Penerbangan malam membuat udara kabin semakin dingin. Aku merapatkan jaket hingga ke ujung leher. Melipat tangan seperti menahan sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri. Aku seperti terlempar jauh dari bumi. Keluar dari atmosfer manusia normal.

Saat capung besi raksasa ini mengudara, jiwaku serasa masih tertinggal jauh di bawah sana. Dipaksa berpisah, tercabut. Bernyawa tapi tidak, tidak tapi bernyawa. Hujan mengiringi keberangkatanku. Sedikit membuat cemas.  Sungguh 1,5 jam yang panjang.

Aku pun harus menahan mual mencium aroma parfum wanita dewasa di sampingku. Ku lihat, tak henti-hentinya dia mematut wajahnya di kaca kecil sepaket dengan bedak padatnya. Lalu sesekali mengambil tisu. Mengelap wajahnya yang tak berminyak, namun penuh dengan lapisan-lapisan powder yang dibawanya. Sesekali juga terlihat dia mengepalkan tangan dengan mata terpejam. Entah gugup, entah takut. Kami saling diam. Tidak sadar parfumnya hampir membunuhku.

Pandanganku beralih ke kaca jendela yang ada tepat di sampingku. Jakarta malam itu meriah sekali. Kerlap kerlip lampunya bak kunang-kunang yang tengah berbaris rapi membentuk formasi. Bukan gugusan bintang yang tercipta atau konfigurasi khusus. Tidak ada Indus, Lacerta, Lyra, Mesa, apalagi Andromeda.  Tapi garis lurus, seperti benang emas 24 karat yang ditarik lurus membentuk tali temali yang simpang siur. Tumpang tindih satu sama lain. Mengkilat. Aku tau, itu jalanan, dan kerlip itu adalah lampu mobil yang sedang berjuang menembus macetnya Jakarta. Dan aku tau, ada yang sedang berjuang juga di bawah sana untuk masa depan.

Beberapa kali aku merasakan turbulensi yang menakutkan, entah itu menabrak gumpalan awan, atau karena perbedaan tekanan, atau juga karena hembusan angin.  Semakin tinggi, asupan oksigen semakin berkurang. Nitrogen itu seolah menghimpit kami yang berusaha menembus batas kemampuan manusia untuk terbang. Makhluk tak bersayap, bipedal berdiri tegak. Tapi mampu terbang. Seolah satwa dan fauna bahkan udara yang tak bersuara ikut melirik iri. Entahlah, tapi sebenarnya itu semua tak berarti.

Baru sejenak pikiran itu melayang, mikirkan hal yang tidak-tidak. Pendaratan darurat, terdampar di pulau tak bernama, bahkan sampai ledakan di udara. Aku ketakutan dengan pemikiranku sendiri. Tiba-tiba hentakan itu terasa nyata di bangku tempat aku mengikatkan diri dengan seatbelt. Aku dapat merasakan dengan pasti perut pesawat ini telah mendarat atau mencium sesuatu. Entah itu permukaan laut, dataran savanna, atau hutan lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Bisa jadi “capung” ini akan terbelah menjadi beberapa bagian, atau parahnya hancur berkeping-keping menyisakan abu. Pikiran-pikiran itu menggigit seluruh keberanianku. melahapnya habis.

“Sampai di sini kah kesempatan aku bermukim di dunia ya Rabb?“ Pikirku pilu, sadar sejak awal lupa bermunajat memohon keselamatan.

“Tolong beri aku kesempatan, putar waktu kembali ke awal. Izinkan aku berdoa, memohon keselamatan. Bukan demi diriku, tapi demi orang-orang yang aku kasihi. Kabulkan doaku. Aku mohon.”

Tak henti aku berucap dalam hati, memejamkan mata erat-erat untuk mengkoneksikan hati dengan Dia. Hatiku ketir, mengingat di ujung sana, di seberang pulau orang tualu tengah menunggu kedatangan bungsunya dengan wajah lelah yang ceria. Senang. Wajah mereka sekelebat lalu lalang di pikiranku. Flashback kenangan manis selama ini. Betapa saat ini aku baru menyadari rahmat itu. Saat di mana aku merasa detik terakhir aku berada di bumi ini. Sadar, begitu banyak nikmat yang aku terima, tapi tidak sama sekali sepadan dengan syukur yang aku tunjukan.

Aku tersentak ketika roda itu berdecit nyaring beradu dengan deru mesin pesawat terbang. Sayap terkembang menarik udara menahan laju lari capung besi ini. Suara pramugari menggema, mengumumkan kami telat tiba. Pilot itu sukses mendaratkan pesawat kami pada landasan pacunya dengan baik saat aku benar-benar sadar dari mimpi panjangku. Tuhan masih mengijinkan aku untuk memohon. Terimakasih. Terimakasih sang Pencipta.

Potongan Wortel 6

Potongan Wortel 6

Tepat 3 bulan, panen wortel itu dimulai. Perkebunan wortel itu terlihat ramai oleh para warga yang selama ini membantu serta anak-anaknya yang ikut riang menambah riuh menjambut terik matahari. Kebanyakan dari mereka takjub melihat wortel yang keluar dari tanah kelahirannya. Ini pertama kalinya wortel-wortel itu ditanam pada daerah dengan tanah gambut dan suhu yang tidak biasa.

 

“Selamat ya Nad. Kamu berhasil.” Ujar Tasya tersenyum.

“Selamat buat kita semua Tasya. Ini keberhasilan kita semua. Maaf ya kalau dulu aku sempat merahasiakan ini semua.”

“Aku yang minta maaf, dulu pernah memaksa kamu.”

“Kamu dan Bagas adalah teman terbaik buat aku. Terimakasih sudah mensupport aku sejauh ini.” Nadia menatap mata Tasya dalam.

“Nad, kehormatan buat aku bisa kamu ajak sampai ke luar pulau Jawa. Besok mau kemana lagi?” Tasya mengerlingkan matanya pada Nadia.

 

Bagas berdehem mendekati mereka. Berdiri di samping Tasya. Sontak merah jambu mencuat di pipi Tasya yang mulai mencoklat. Nadia sedikit curiga.

“Seru ya obrolannya. Sampai kedip-kedipan mata. Mau dong dikedipin.” Bagas tertbahak-bahak, sementara Tasya wajahnya terasa panas karena malu.

“Tasya, gimana tuh Bagas, minta kamu kedipin juga,” goda Nadia.

“Apaan sih, ayo ah itu bantu panen.” Tasya pergi begitu saja, mencabut asal wortel yang ada di hadapannya.

“Nad, sukses ya. Planing selanjutnya apa?”

“Menikah Gas.” Nadia hanya menatap jauh. Rencana yang telah disusunnya sejak 3 tahun lalu telah tercapai, dan hasilnya nyata. Sedikit banyak membawa perubahan untuk masyarakat di sini. Memberikan alternatif pertanian yang lain, yang lebih menguntungkan. Bagas mematung, harapannya sekarang seperti kabut, sekali angin itu bertiup. Maka lenyap sudah semuanya. Tidak akan ada yang tersisa dari dirinya.

“Sama Imran, Nad?”

“Menurutmu?” Jawab Nadia datar. Apa yang diucapkan Bagas adalah harapan yang selama ini belum juga terwujud. Bahkan Nadia tidak pernah tau apa jawaban dari pertanyaannya. Empat tahun bersama Imran. Empat tahun itu pula gesekan keras diantara mereka terjadi, percikan api selalu muncul disela-selanya. Sampai saat ini bahkan Nadia belum melihat sedikitpun indikasi Imran akan datang untuk memintanya. Sementara di dunia yang bersebrangan, Bagas sibuk berspekulasi, mengira-ngira sepulang dari sini dia akan menerima undangan dengan inisial N & I. Hatinya menggigil pilu. Bukan ingin menghancurkan hubungan Nadia dengan Imran, tapi sampai saat ini dia belum mampu menggantikan sisi hatinya dengan orang selain Nadia.

“Gas.”

“Iya Nad?”

“Merasakan sesuatu yang aneh dengan Tasya?”

“Sesuatu apa?”

“Sepertinya Tasya lagi jatuh cinta,” ujar Nadia berspekulasi.

“Menurutku dia akhir-akhir ini lebih cuek sama aku. Udah enggak easy going lagi.”

“Mungkin dia suka kamu Gas?”

“Ah, mana mungkin Nad. Tapi emang mempesona kali ya?”

Nadia menoleh, memandangi Bagas dari atas sampai bawah.

“Hati-hati Nad, jangan liat-liat kamu. Ntar naksir bahaya,” ujar Bagas yang sebenarnya gugup diperhatikan oleh Nadia.

“Kak Nadia!” Teriak gadis kecil di ujung sana. Anita yang selalu ceria.

“Iya Anita!” Balas Nadia tak mau kalah.

“Sini donk, jangan pacaran terus sama Kak Bagas.”

Bagas yang disebut namanya kikuk mendengar kata pacaran. Seandainya pintu hati perempuan disampingnya ini masih terbuka. Bagas siap datang menghadap ayah Nadia. Tapi kunci itu sudah dipegang oleh Imran. Nadia berlari menghampiri Anita, meninggalkan Bagas yang hanya bisa melamunkan semua impiannya.

Potongan Wortel 5

Potongan Wortel 5

Setibanya Tim di pulau Kalimantan, mereka hari itu tidak langsung bekerja. Menikmati panorama alam di sekitar yang didominasi oleh pepohonan rindang adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Selain itu mereka semua butuh adaptasi dengan lingkungan sekitar. Jauh memandang ke ujung, hutan yang terbentang, walau sebagian sudah menjadi perkebunan sawit. Setidaknya bukan gedung tinggi seperti yang biasa mereka lihat. Suhu di sini jika terik dapat mencapai 35oC. Sementara wortel milik Nadia dapat tahan hingga suhu 45oC. Nadia sangat berharap proyeknya ini berhasil. Harga jual wortel per kg di pulau ini terbilang mahal. Karena transportasi yang cukup jauh, sementara kebutuhan wortel pulau Kalimantan masih disuplay dari pulau Jawa.

 

Rombongan Nadia tinggal di rumah Pak Lurah di desa Baamang. Tidak ada mall di sini. Listrik menyala pun sudah menjadi barang mewah di kampung ini. Pak Lurah sudah mengkoordinasi warga sekitar untuk meminjamkan lahan pertanian mereka sementara waktu. Banyak warga yang masih ragu, butuh kerja keras untuk tim meyakinkan mereka semua. Wortel bukanlah tanaman yang sering mereka jumpai, bahkan tidak pernah ada. Mengkonsumsinya pun mereka tidak pernah, karena harga yang selangit. Dua minggu mereka di desa itu, baru sekitar 5 warga yang bersedia meminjamkan lahannya dengan syarat. Tim harus mengganti rugi karena mereka tidak dapat menanam pagi. Keduabelah pihak membuat kesepakatan. Proyek berjalan di minggu ke tiga.

Planlet mulai diaklimatisasi pada lahan pertanian yang telah disiapkan. Dari 100 eksplan hanya 20 yang berhasil tumbuh segar. Sengaja ini sebagai percobaan awal. Melihat respon planlet terhadap lingkungan sekitar. Ternyata hanya 20%. Nadia dan tim mencoba untuk memodifikasi tempat tanam dengan membuat rumah-rumah kecil untuk bakal calon wortel-wortel itu. Cara ini cukup ampuh untuk membuat persentase pertumbuhan bertambah. Warga semakin semangat bercocok tanam wortel.

“Mbak Nadia, kira-kira kapan kita bisa panen?” Ujar salah seorang warga.

“Insyaallah 1 minggu lagi Pak.” Nadia tersenyum.

 

Sudah 2 bulan 3 minggu Nadia dan teman-temannya berada di desa ini. Meskipun awal yang sulit harus mereka jalani. Namun mereka semua yakin setiap perjuangan pasti akan berujung manis.

“Kak Nadia!” Teriakan seorang anak perempuan terdengar dari kejauhan. Nadia tau siapa yang berteriak. Lantas Nadia melambaikan tangannya. Anak itu mendekat. Tapi lama sekali. Seperti biasa Nadia menunggu dengan sabar. Anak itu datang terseok-seok dengan tongkat di tangan kanannya.

“Kak, ayo kapan kita belajar membaca lagi?” Ujar anak itu semangat. Anita, gadis mungil dengan kulit terbakar. Rambut panjang yang lurus dan dengan kaki kanan yang mengecil karena penyakit folio yang menyerangnya sejak umur 4 tahun.

“Sekarang yuk.” Nadia memapahnya ke gubuk yang selama ini menjadi tempat mereka istirahat. Anita adalah teman barunya di sini. Anak periang yang seolah tanpa beban dengan kondisinya. Dia tidak pernah peduli dengan kaki kanannya yang tidak normal.

“Kak, masih lama kan di sini? Anita masih belum bisa perkalian Kak.”

“Dua minggu lagi. Makanya Anita yang semangat ya belajarnya.”

“Dua minggu? 14 hari lagi Kak? Kenapa cepat sekali?” Wajahnya murung.

“Itu masih lama. Kakak janji Anita sudah pandai berhitung sebelum kakak pergi.”

Anita hanya tersenyum tipis. Wajahnya masih saja murung. Baginya, Nadia dan kakak lain seperti Tyas dan Bagas adalah oase penyejuk. Dari mereka Anita mulai belajar. Gadis pintar ini mampu membaca dalam waktu dua bulan. Tidak hanya Anita yang merasakan pedihnya perpisahan. Nadia pun begitu, namun ia harus kembali ke Jakarta. Dia pun sudah merindukan Imran. Suatu saat, Nadia berjanji akan kembali untuk Anita.

 

Potongan Wortel 4

Potongan Wortel 4

 

Tiket pesawat, barang-barang yang akan dibawa, serta tidak ketinggalan planlet yang merupakan hal terpenting dalam proyek ini telah di siapkan dengan cermat. Sehari sebelum keberangkan ke pulau Kalimantan. Tiba-tiba saja Bu Maya datang melihat-lihat hasil kerja Nadia selama ini.

“Nad, kamu yakin ini bisa berhasil?” Ujarnya angkuh.

“Insyaallah Bu.”

“Tentu tidak sedikit dana yang keluar untuk proyek besar seperti ini. Berapa persen keberhasilannya?” Tanya Bu Maya ragu.

Nadia terdiam. Pak Gunawan saja tidak pernah mempertanyakan hal ini. Pak Gunawan percaya padanya. Apa ini bagian dari menjatuhkan Nadia?

“Dalam skala laboratorium 80% penelitian ini berhasil.”

“Skala laboratorium kamu bilang? Hah, seperti itu dijadikan dasar untuk membawa ini semua ke daerah yang jelas-jelas iklimnya berbeda.”

“Ibu, lembaga penelitian dimana saya mengajukan dana, bisa menerima. Mereka tentu memiliki kompetensi untuk menilai ini semua.”

“Lebih baik dananya kamu alokasikan untuk lab ini saja. Lupakan proyek mu di Kalimantan Nadia.” Tegas Bu Maya.

“Apa maksud Bu Maya ini?”

“Saya yakin, ini akan gagal. Hanya akan membuat malu. Mundur saja sebelum terjadi.”

“Maya!” Sentak Pak Gunawan.

“Pak Gunawan?” Nadia terkejut dengan kehadiran Pak Gunawan yang tiba-tiba.

“Ikut saya ke ruangan!” Pak Gunawan terlihat geram. Tidak pernah sekali pun Pak Gunawan memanggil Bu Maya dengan hanya menyebut namanya tanpa embel-embel Bu.

 

Bu Maya mengikuti pak Gunawan menuju ruangannya. Terdengar pintu ruangan dibanting dengan kasar. Nadia tercenung melihat dan menyaksikan itu semua.

“Memalukan Maya! Malu pada reputasi mu di sini!”

“Terus saya kau membela anak ingusan itu Gunawan!”

“Maya! Dengarkan aku! Nadia mendapatkan dana itu karena hasil kerja kerasnya. Lihat dirimu! Bukan kah selama ini kau hanya mengekor dibelakang senior lainnya? Itu yang menjadikan nama mu terangkat. Malu sebenarnya aku membeberkan fakta ini.”

“Lancang kau Gunawan!” Wajahnya memerah menahan malu.

“Sadar Maya. Semua orang membicarakan mu. Tapi kenapa tidak pernah kau sadar dengan hal itu?”

“Cukup Gunawan! Cukup!”

“Tidak lama mungkin saja kau akan didepak dari tempat ini jika sikap mu tak juga kunjung berubah.”

“Aku ini seorang doktor Gunawan. Tidak mungkin mereka mengeluarkan aku. Jika tidak akreditasi akan turun,” ujar Bu Maya percaya diri.

“Kamu pikir hanya kamu Maya yang memiliki gelar doktor disini?”

“Tentu.”

“Jika proyek Nadia dan kawan-kawannya itu selesai. Dia akan meraih gelar doktor. Ini bukan masalah meraih gelar semata. Tapi apa yang dilakukan Nadia dan teman-temannya adalah misi kemanusiaan.”

“Aku tidak percaya dengan semua ini!” Bu Maya pergi dengan membanting pintu kerja Pak Gunawan lebih keras.

Nadia yang dari tadi berdiri tak jauh dari ruangan itu mematung. Nadia mendengar semua pertengkaran yang terjadi di dalam ruangan itu. Pak Gunawan keluar ruangan, melihat Nadia dan menghampirinya.

“Tenanglah. Esok berangkatlah dengan teman-temanmu. Saya percaya dengan kalian.”

“Tapi Pak..”

“Tidak perlu mengkhawatirkan apapun Nad.” Pak Gunawan tidak ingin dibantah.

“Baiklah Pak.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju Bandar udara Soekarno Hatta. Pukul 6 pagi pesawat itu akan berangkat. Imran ada di sana untuk melepaskan kepergian Nadia. Pag Gunawan pun ada di sana. Tidak menyangka beliau datang di pagi buta hanya untuk mengantarkan mereka semua.

“Jaga dirimu baik-baik di sana,” ujar Imran.

Nadia tersenyum “Kamu juga ya.”

Tim proyek pun masuk kedalam ruang tunggu. 10 menit lagi mereka berangkat.

Potongan Wortel 3

Potongan Wortel 3

Tiga bulan telah berlalu, kini kalus itu telah menjadi planlet yang siap diaklimatisasi. Tumbuhan segar dalam botol-botol kaca itu seolah berkata aku siap untuk hidup mandiri, menantang dunia. Mengenal matahari, dan hal yang paling ku inginkan selama ini. Berfotosintesis.

 Namun, pertumbuhan planlet-planletnya yang terus mengalami kemajuan pesat, tidak sepesat perkembangan baik hubungannya dengan Imran. Mereka memang masih saja mempertahankan hubungan yang kering itu. Berusaha menikmati kelelahan-kelelahan yang ada. Tanpa ingin berpisah mengikhlaskan satu sama lain.

 

“Imran, lusa aku bersama tim akan pergi ke Kalimantan,” ujar Nadia menatap dalam saat bertemu Imran.

“Berapa lama?” Imran mendengarkan dengan santai, sembari menyeruput kopi hitamnya.

“Mungkin 3 bulan,” ucap Nadia datar.

“Oke,” ujarnya santai tanpa beban.

“Imran, apa kau sama sekali tidak merasa kehilangan?” Tanya Nadia gusar dengan sikap Imran yang terlihat biasa-biasa saja.

“Lantas aku harus bersikap bagaimana Nad? Sudahlah, tidak perlu kita mempermasalahkan hal sepele.” Imran terlihat mulai kesal. Nadia yang berumur 3 tahun di bawahnya baginya belum juga bisa dapat bersikap dewasa.

“Tiga bulan Imran, kita tidak akan bertemu tiga bulan,” Nadia mendramatisir.

“Nad, kamu punya handphone kan? Apa di Kalimantan tidak ada sinyal untuk kita berkomunikasi?”

Nadia tertawa dalam hati, dia hanya ingin Imran menunjukkan wajah kehilangannya. Hanya itu yang dia butuhkan. Karena itu yang membuat dirinya merasa berarti untuk Imran.

“Jaga baik-baik dirimu di sana,” ujar Imran sedikit cuek.

“Kau selalu seperti ini. Romantis sedikit kenapa?”

“Kita bukan abg lagi Nad.”

Sedikit kecewa terbersit di dalam hati Nadia. Di sisi hati yang lain, Imran berusaha menutupi rasa sedihnya. Imran tidak bisa jauh sedikit pun dari Nadia. Itu membuatnya tersiksa. Tapi ia harus terlihat sebiasa mungkin di hadapan Nadia, agar Nadia di sana pun dapat kuat dan fokus dengan proyeknya.

 “Awas kamu macem-macem di sini!” Ancam Nadia pada Imran.

Imran tersenyum kecut. “Toh kamu juga gak tau kan kalau aku macam-macam?” Sengaja sekali Imran menggoda Nadia.

“Imran, aku serius!”

“Aku juga serius. Jangan-jangan kamu yang macem-macem di sana. Kan asik tuh ada Bagas juga.” Semakin menjadi Imran menggoda kekasihnya, padahal hatinya sendiri was-was dengan keberadaan Bagas di sana. Tapi Imran tau siapa Nadia. Selama ini dia berhasil untuk tidak merespon perasaan Bagas. Nadia telah memilih tim. Dia memutuskan Bagas, Tasya serta teman-teman lainnya menemaninya menjalankan proyek besar itu. Hak paten telah didapatnya. Semua hal telah dipersiapkan. Termasuk makan malam bersama Imran.

“Ya gak mungkinlah. Bagas sama aku cuma temen.” Nadia ngotot.

“Yaudah, bisakan kalau kita saling percaya Nad? Aku juga di sini pasti bakalan sibuk dengan pekerjaanku.” Imran hampir putus asa menjelaskan hal yang sama berulang-ulang pada Nadia.

“Iya Imran. Iya aku mengerti.” Nadia tak enak hati. Sejatinya dia sadar, percaya bahwa Imran tidak mungkin melakukan hal yang akan menyakitkan dirinya.

“Kamu tu ya, ngerti tapi gak mau ngertiin.” Imran kesal.

“Ih manyun gitu. Maaf Imran. Iya aku percaya kok. Cuma butuh ditegaskan aja lagi.” Nadia terkekeh.

“Sama aja. Gak ada yang lucu Nad.”

“Iya, maafin aku Mas,” ujar Nadia merasa bersalah.

“Ya sudahlah. Masih ingin berlama-lama di sini?”

“Tidak, kita pulang. Sudah agak larut. Tapi…” Ujar nadia menggantung.

“Tapi apa lagi?” Imran tampak sangat kesal.

“Tapi gandengan tangan ya?” Ujar Nadia menatap manja kearah Imran.

Imran terkejut memandang Nadia. Permintaannya sungguh tak terduga. Kadang dia menyukai sifat kekanak-kanakan Nadia. Kadang hal itu amat sangat menyebalkan, hingga sering meletuskan pertengkaran diantara mereka. Rintik lembut hujan menyambut mereka setelah dari sebuah resto. Mereka pulang, berjalan kaki di tengah tetesan hujan yang halus. Mencari angkot 06A, bergandengan.

Potongan Wortel 2

Potongan Wortel 2

Dari sekiran banyak wortel yang dikultur oleh Nadia mulai memperlihatkan hasilnya. Dari kalus tidak lama lagi mereka akan menjadi tunas. Walau beberapa ada yang terkontaminasi. Namun hal itu lumrah. Nadia senang dengan perkembangan ini. Perjalanan memang masih panjang. Jika berdasarkan skala laboratorium Nadia berhasil, namun pada kenyataannya belum ada yang tau. Ditambah iklim di pulau Kalimantan yang lebih ekstrem.

”Nad, tolong ceritakan lah pada ku, untuk apa semua ini? Bukan untuk pelarian dari masalah antara kamu dan Imran kan?” Tasya mencoba mencari tau tujuan Nadia.

Nadia menoleh, menatap tajam Tasya. “Bukan,” walau jujur di dalam hatinya, ini memang ada keterkaitannya dengan Imran. Pelarian dari kelelahannya bersama Imran.

“Lalu apa? Kenapa kamu menyembunyikan ini semua? Tidak percaya padaku?”

“Seorang teman tidak akan pernah memaksa Tasya,” ujar Nadia tegas.

 

Belum saatnya semua ini diceritakan pada siapapun. Di sini semua bisa berubah, kawan bisa jadi lawan. Lawan belum tentu kawan. Sikut menyikut sudah biasa terjadi. Apalagi jika ada pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan hasil penelitian hanya untuk mengangkat nama. Tidak sadar, bahwa mereka ada untuk mengabdi. Membuat semua menjadi mudah. Membuat masyarakat sejahtera. Terlebih rakyat kecil.

 

“ Oke baiklah. Kamu tau, kita sudah berteman sejak bangku kuliah Nad. Jujur ini menyakitkan.”

 

Ini adalah saran dari Pak Gun, untuk sementara waktu merahasiakan misi penting ini. Selama hak paten atas hasil penelitiannya itu belum dia didapatkan. Nadia disarankan untuk menyimpan rapat-rapat proyek besarnya ini. Walaupun proyek itu mulai terendus oleh tim kerja Bu Maya. Dia memang belum butuh tim untuk waktu sekarang ini. Pekerjaan dilapanganlah yang nantinya lebih menguras tenaganya, saat itulah dia butuh tim yang bisa dipercaya. Dia berjanji, orang pertama yang direkrutnya adalah Tasya.

 

“Suatu saat kamu akan mengerti Tasya,” ujarnya tak ingin Tasya salah paham.

 

Nadia kembali berkutat dengan botol-botol kulturnya, mengambil yang terkontaminasi sebelum yang lain terkena wabahnya. Penyelamatan ini harus dilakukan segera. Lantas botol-botol itu dicuci lalu diremdamnya dalam air mendidih. Semua harus steril. Ya semuanya. Seandainya hatinya bisa dengan mudah disterilisasi dengan cara ini, tentu dia mau. Tak jarang ditengah pekerjaannya bayangan wajah Imran muncul. Kenangan lama bersama Imran kembali terungkit semakin membuatnya sakit. Rindu yang sekian lama dikuburnya dalam-dalam, seolah memaksa keluar, mengoyak labirin hatinya yang rapuh. Menyesali, kenapa frekuensi itu tak kunjung bertemu setelah sekian tahun bersama. Kenapa tak jua ada rasa nyaman diantara mereka? Itu pertanyaan besar yang sampai saat ini belum Nadia temukan jawabannya.

 

“Imran,” rintihnya menangisi kepedihan hati.

 

Ini seperti luka menganga yang ditaburi garam. Tak terperi sakitnya. Hujan deras menutup suara tangisnya. Untung saja semua pekerja sudah pulang sore itu. Tapi di sudut dinding, tak jauh darinya Bagas tengah berdiri mendengar tangis pilu itu. Ingin rasanya memeluk dan menenangkan gadis pujaan hatinya itu. Namun semua itu hanya akan menjadi ilusi. Nadia tau perasaannya tanpa harus mendapat pengakuan darinya. Semua sudah tergambar jelas dengan sikap Bagas selama ini. Bagas kagum, karena Nadia seorang perempuan yang memegang teguh janji setianya bersama Imran. Bahkan tak sedikitpun Nadia sempat membalas perasaannya. Nadia dengan sukses memposisikan dirinya sebagai teman, tidak lebih. Seolah dia tidak pernah tau maksud dari sikap Bagas selama ini.

Bagas pergi menembus hujan, dengan sebelumnya meninggalkan sebungkus calzone di meja kerja Nadia. Nad, ini aku bungkusin martabak Itali mu. Dihabiskan! Bagas meninggalkan pesan di atasnya. Tidak ada yang tidak Bagas tau tentang Nadia. Bahkan makanan kesukaan Nadia. Senyum manis itu mengembang membaca martabak Itali yang dituliskan Bagas. Tasya dan Bagas adalah teman terbaiknya di sini.