Cerita dari 2.930 mdpl

Cerita dari 2.930 mdpl

Merbabu dari Merapi
Doc. Pribadi (Meyta, 2013)

Pendakian pertama menuju puncak kawah Gunung Merapi yang awesome banget! Perjalanan dari basecamp menuju puncak dimulai dari jam 12 malam. Sebelumnya aku memang belum baca-baca soal jam ideal untuk mendaki, jadi ya terima aja kalau diajak naik tengah malam dengan suhu dibawah 20 derajat, dan ternyata jam ideal setiap pendaki itu beda-beda.

Orang bilang ini perjalanan konyol. Sebagian juga bilang kalau aku cari mati. “Refreshing di gunung? Kayak gak ada tempat lain aja mbak.” Kata-kata yang agak kejam untuk pendakian pertama, bikin down. Tapi emang iya sih persiapan secara fisik minim banget, logistik dan peralatan standar mendaki juga pas-pasan. Namanya juga pendaki pemula yang udah terlanjur kepengen merasakan hawa puncak. Mendakikan learning by doing. Semakin banyak mendaki, semakin tau apa yang harus dibawa dan apa yang harus dipersiapkan. Sayangnya belum pernah ada yang kasih tau kalau mendaki itu yaah.. “sesuatu”.

            Aku kira langkah kaki pertama ini bakal seru diiringi dengan sorak sorai gegap gempita orang-orang yang kegirangan dapat izin (memaksa) dari orang tuanya untuk menyusuri lereng hingga puncak gunung. Perasaan itu kayaknya cuma punya aku, karena ekspektasiku, NOL besar! Anggota tim yang lain sepertinya kompak buat berdiam diri, menatap langkah kaki masing-masing sembari mengatur nafas yang sudah mulai putus-putus. Bukan langkah kaki mereka yang saling kejar-kejaran, tapi nafas diantara mereka saling memburu satu sama lain. Situasi kayak gini emang gak pas kalau mau rame-rame, energi bicaranya lebih baik disimpan untuk bisa melangkah lebih jauh, jauh dan jauh lagi. Saat mendaki seperti inilah persiapan fisik sebelumnya itu punya peran besar, minimal 1 minggu sebelum pendakian kita harus latihan fisik biar gak gampang capek kayak kakek-kakek encok.

            Ngomong-ngomong soal izin, itu kayaknya jadi hal keramat deh waktu naik gunung. Tiba-tiba jadi horor kalau ada temen yang gak dapat izin mendaki dari orang tuanya. Izin itu bentuk kepercayaan orang tua ke kita buat bertanggungjawab jaga diri sendiri di jungle yang sebenarnya. Ibaratnya, izin itu tiket kamu buat mendaki. Kalau belum dapat jangan coba-coba mendaki deh, itu bentuk sikap yang gak bertanggung jawab banget. Selain membahayakan diri sendiri, juga membahayakan tim mu. Perasaanmu akan di hantui rasa was-was dengan ketidaktahuan orang tua. Sereeem!

            Masih pertama, jadi masih polos ya. Gampang banget dikibulin, “masih lama ya?” Pertanyaan itu akan selalu muncul di setiap meter kaki melangkah. Rasanya kok udah jauh banget jalan tapi gak nyampe-nyampe. “Enggak kok tinggal dikit lagi.” Kayaknya mereka sudah jawab itu sejak kami lewat pos satu, dua dan seterusnya. Ternyata semakin aku bertanya, maka semakin banyak teman-teman seperjalanan yang berbohong. Tapi bersyukur banget kali ini dibohongi, dibalik kebohongan mereka itu justru membantu menumbuhkan semangat untuk terus berjuang. Iya, puncak memang sudah dekat. Sejak kamu dari basecamp seenggaknya kamu sudah dekat dengan puncak dibandingkan dengan mereka yang ada di pesisir pantai sana.  Seenggaknya mereka berusaha mengeluarkan kata-kata yang positif. Coba bayangin kalau mereka ngejawab “Masih jauh banget lah, kira-kira masih 6 jam lagi.” Jalan kaki 6 jam?!!!!!!!!!

            Kadang disela-sela lelah yang mendera itu, terselip penyesalan kenapa dan untuk apa bersusah payah mendaki ditengah malam yang dinginnya membekukan ini. Menantang bahaya yang cuma bermodalkan 1 nyawa, untuk apa? Kalau ada apa-apa gimana. Kayaknya aku harus mengakui kalau ini konyol. Tapi, selalu ada tangan yang terulur untuk menarik semangat itu bangkit, dari kata-kata yang menyentil pedas “awas lu ya besok, jangan ngaku naik gunung merapi kalau belum sampai puncak” juga yang penuh pengertian “jalannya pelan-pelan aja, nanti juga kita sampai kok.” Iya juga ya, kita cuma perlu melangkah, kalau lelah yang kita perlu istirahat. Selama kita melangkah, maka puncak bukan sesuatu yang mustahil. Selama tubuh mu belum menua dan renta, nafas mu masih kuat memburu, apa yang salah jika memaksa kaki ini berjalan lebih jauh? Kecuali satu hal, situasi lingkungan yang gak mendukung. Erupsi, badai atau kondisi lain yang gak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Maka hentikan segera!

            Teman-teman punya andil besar untuk kita bisa mencapai puncak impian. Sedikit yang mereka ucapkan, tapi energinya besar. Detik ke menit, langkah demi langkah, tanjakan dan turunan, teman tim dalam pendakian yang punya banyak pengaruh besar. Kebayang waktu jatuh bangun menuju bibir kawah gunung merapi. Karena teman yang baik itu yang membantumu naik menuju puncak, bukan yang menantimu di puncak. Karena mereka aku menangis haru diantara asap belerang. Cerita dari 2.930 mdpl.

Iklan
Jembatan Pelangi Orchid

Jembatan Pelangi Orchid

“Musim hujan begini?” Arka terkejut mendengar permintaan Mala.

“Ya kapan lagi Ka? Dia cuma ada di musim penghujan.” Ujar Mala merayu.

“Kamu sadar gak, cuacanya sekarang lagi buruk banget, Mal. Gak mau ah!”

“Sekarang lagi gak buruk, Ka. Lihat deh langitnya cerah kok.” Bujuk Mala gigih. Keinginan Mala untuk melihat si cantik bidadari sangat kuat. Menurutnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berkunjung kembali. Malaxis oculata adalah anggrek tanah yang umum dengan nama anggrak pelangi. Mala ingin mengulangi kejadian yang sama seperti tahun sebelumnya, saat ia melakukan pendakian singkat di Bukit Plawangan, Yogyakarta. Mala ingin melihat Maxalis di sepanjang lengkungan pelangi itu.

****

    Akhirnya di sini lah Arka dan Mala, di depan gerbang selamat datang bukit Plawangan. Mala berhasil mengajak Arka untuk menyusuri setiap semak belukar yang ada di bukit ini untuk sebuah foto. Ya setidaknya seperti itulah apa yang ada dibenak Arka sebelum Mala menceritakan rahasia besarnya yang ada di bukit Plawangan ini.

“Mal, gak usah ngayal yang aneh-aneh deh. Bentar lagi mau ujan nih.” Arka berulang kali menengadahkan wajahnya melihat langit yang semakin pekat oleh awan nimbostratus.

“Justru ini saatnya, Ka. Aku pengen nunjukin ke kamu sisi lain dari Malaxis.” Ujar Mala antusias.

“Jas ujan, senter, logistik, air, korek, udah semua?” Tanya Arka memastikan dengan wajah cemas, karena dirinya sadar betul bahwa perjalan ini sangat beresiko dengan curah hujan yang tinggi.

“Sip, udah.”

Keduanya kemudian berjalan melalui pos untuk melaporkan pendakian singkat mereka sore ini.

“Maaf mas, ini cuacanya sedang buruk. Masih mau naik ke atas?” Tanya juru kunci daerah tersebut.

“Cuma sebentar kok, Pak.” Mala segera menjawab sebelum Arka membatalkan perjalanan ini.

“Oh ya sudah mbak, hati-hati ya. Jalannya licin.”

“Siap, Pak.” Ujar Mala mantap dan kemudian mereka berdua memulai perjalanannya.

“Aku di depan ya, Ka.” Ujar Mala basa basi karena Arka hanya diam saja, Mala mengerti sekali saat ini dia sedang menantang maut.

Arka dan Mala berteman sejak pertama kali mereka masuk ke dalam unit kegiatan mahasiswa orchid yang ada di kampus. Semua yang tergabung menjadi anggota adalah pecinta anggrek dari hibrid hingga anggrek hutan yang hanya muncul pada musim tertentu, termasuk mereka berdua. Mereka rela berpayah-payah menyusuri semak belukar, mendaki gunung berhari-hari, demi dapat melihat kesayangan mereka tumbuh pada musim itu. Seperti halnya Mala saat ini, namun kali ini perjalanan Mala berbeda. Tahun lalu gadis yang memiliki perawakan mungil itu mendapat pengalaman yang tidak terduga ketika dirinya terpisah seorang diri jauh dari teman-temannya yang ikut mengamati anggrek.

“Arka?” Panggil Mala sembari terus berjalan ke depan tanpa menoleh.

“Arka?” Panggilnya sekali lagi.

“Hmm..” Hanya itu suara yang dia dengar dari belakang. Mereka mulai berjalan naik, nafasnya mulai tersengal-sengal satu dua. Udara disekitar semakin dingin, angin berhembus pelan, kilat menyala tanpa suara. Sebentar lagi, batin Mala. Selama pendakian kebanyakan orang memilih diam menikmati perjalanan. Selain lebih hikmat, juga dapat menghemat energi untuk perjalanan yang panjang.

“Arka?” Panggilnya lagi tanpa menoleh, seketika itu hujan turun perlahan.

“Arka?” Tidak ada jawaban seperti tadi dan akhirnya Mala menoleh, tidak ditemukan siapa-siapa di belakangnya. Hujan mulai menghujam tanpa ampun. Tinggal beberapa meter lagi akan ada goa jepang. Mala bergegas naik lebih ke atas untuk mencapai goa, tapi hujan semakin deras. Menyerang tanpa ampun. Jalanan semakin bertambah licin, beberapa kali Mala terpeleset  jatuh.

Kejadian ini persis seperti waktu itu, pikir Mala. Saat dirinya sendiri terjebak hujan yang sangat deras, alat komunikasinya pun tidak bisa digunakan. Tidak ada sinyal, bahkan sekedar untuk mengirim pesan SOS. Akhirnya Mala sendirian terpaksa berteduh di dalam Goa jepang yang ada. Goa itu sengaja dibangun pada zaman dulu sebagai tempat berlindung. Dulu, setahun yang lalu Mala ketakutan seorang diri melawan gelap dan dingin yang menusuk kulit. Goa itu gelap gulita, tidak terlihat sama sekali ujungnya.

Kali ini dia sengaja membawa Arka untuk memperlihatkan sesuatu yang tersimpan dibalik gelapnya goa itu. Sayang sekali sepertinya dirinya sengaja dipisahkan dari Arka oleh alam. Mala berharap Arka baik-baik saja. Alam sepertinya tidak merestui niatnya untuk membagi hal itu pada Arka. Mala menyalakan senter dan berusaha mencari-cari jamur itu. Jamur yang akan membawanya menuju jembatan pelangi. Jamur berwarna kuning keemasan yang dulu tidak sengaja dicabutnya. Jamur itu mengeluarkan wangi yang tidak biasa seperti jamur-jamur lainnya. Tidak lama Mala seperti terhipnotis, matanya mulai berkunang-kunang karena aroma jamur itu, pandangannya mulai kabur, lalu gelap.

****
“Jembatan pelangi!” Pekik Mala dalam hati. Jembatan yang terdiri dari warna-warni pelangi, Mala berjalan ragu, melintasinya perlahan. Bening sperti kaca, tapi bukan. Ini pelangi! Mengalir air dibawahnya dengan bunyi air yang gemericik seru.

“Ini benar-benar pelangi.” Ujar Mala meyakinkan dirinya sendiri. Hati-hati sekali dia melangkah, takut terjatuh. Seandainya Arka melihat semua ini, Mala menyayangkan dirinya harus terpisah dengan Arka dalam perjalanan. Di ujung jembatan Mala melihat kemilaun cerah, tidak sabar rasanya untuk bisa mencapai penghujung jembatan itu. Perlahan tapi pasti terlihat hamparan Malaxis oculata dengan tangkai yang menjulang. Tidak hanya itu, sisi lain juga dipenuhi dengan Aerides houlletiana, warna kuningnya menyala menyilaukan mata. Semakin jauh Mala berjalan semakin banyak jenis anggrek yang baru pertama kali dilihatnya. Lebih indah dari anggrek hibrid hasil persilangan itu. Bahkan mungkin semua anggrek dari musim apapun ada di sini.

Foto! Pekiknya dalam hati. Bergegas Mala mengeluarkan kamera DSLR keluaran yang paling baru, dibukanya penutup lensa. Tapi seperti ada yang salah, berkali-kali tombol “on” ditekannya, kameranya tetap tidak mau menyala. Dunia apa sebenarnya ini? Keindahan di depan matanya saat ini tidak mampu diabadikannya. Entah kapan lagi bisa kembali ke sini, pikir Mala murung. Bagaimana Arka bisa mempercayai ceritanya kali ini. Sekali lagi diedarkannya pandangan kesegala pejuru, menikmati selagi bisa menikmati. Merekam sebanyak mungkin momen berharga ini. Mungkin memang ini semua hanya akan menjadi rahasianya. Atau mungkin tempat ini hanya memilihnya untuk mengetahui ini semua? Biarkan alam yang memilih. Ujar Mala berkata pada dirinya sendiri. Terlihat titik gelap diseberang jalan dia berdiri, titik itu seolah menyedotnya untuk masuk ke dalam. Mala terhisap oleh titik gelap itu.

****

“Mala?” Seseorang menepuk-nepuk pipinya menyadarkan.

“Arka?” Ujar Mala bangun, hampir terlonjak karena terkejut.

“Ya ampun Mala, aku nyariin kamu. Ternyata di sini, aku hampir mau turun lagi lapor ke juru kunci.” Ujar Arka dengan wajah yang khawatir.

“Arka, kali ini aku melihat itu lagi.” Berharap Arka percaya dengan ceritanya kali ini. Mala sudah pernah menceritakan pengalaman pertamanya pada Arka ketika dia melintasi jembatan pelangi itu. Tapi Arka menganggap dirinya terlalu banyak berkhayal.

“Sudah ya kita turun dulu. Sudah terlalu malam kita di sini, lagian kamu basah kuyup begini.”

Mala sadar dirinya tidak bisa memaksa Arka untuk percaya pada apa yang tidak Arka lihat. Akhirnya Mala mengikuti saran Arka untuk turun dan tidak lagi banyak bicara. Dirinya terlalu lapar untuk bercerita yang nantinya hanya akan dianggap khayalan. Mala berusaha berdamai dengan dirinya sendiri untuk menyimpan keindahan itu seorang diri.

Sesampainya di bawah, Mala segera mengganti bajunya yang basah. Mala dan Arka pun kembali ke kota Jogja. Arka kemudian menghentikan motornya di salah satu rumah makan, tempatnya nyaman. Akhirnya Arka paham kalau aku sangat lapar, ujar Mala dalam hati sambil terkekeh. Dia sudah melupakan keinginannya bercerita, atau lebih tepatnya memaksa Arka percaya pada ceritanya.

“Ngapain senyum-senyum sendiri gitu, Mal?” Tanya Arka.

“Ha? Enggak papa, kamu ngerti juga kalau aku lapar.”

“Oh kamu lapar? Aku malah gak tau, kalau aku emang laper banget.” Raut mukanya serius. Mala salah tingkah. Aku terlalu GR ternyata, batinnya.

“Ka, tadi kok kita bisa pisah di jalan?” Tanya Mala penasaran, setelah mereka mendapat meja.

“Aku berhenti sebentar, minum. Taunya kamu udah gak kelihatan.” Jawab Arka.

“Oh..” Ujar Mala pendek.

“Mal..”

“Hmm?”

“Aku tadi juga lihat, apa yang dulu kamu bilang, awesome journey.” Ujar Arka berbisik.

Mala memekik terkejut, matanya membulat tidak percaya.

**SELESAI**

Nb: Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” yang di selenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Vonis Kematian

Vonis Kematian

Author

Meyta Sutanto

meyqiyut@yahoo.com


Ilustrasi oleh: Budi Setiawan

“Win!!” Terdengar teriakan perempuan dengan suara cempreng dari kejauhan. Aku menoleh sekilas, Tiara berlari mendekatiku, bergegas aku melangkah lebih cepat menuju parkiran motor sambil menghisap dalam-dalam rokok yang masih menyala.

“Win! Tungguin gue!” Teriaknya lagi. Terpaksa aku berhenti menunggunya. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menghindar untuk sementara waktu.

“Kenapa sih lo? Gue mau nebeng!” Ucapnya padaku setengah marah. Aku diam saja, mengisyaratkannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tiara adalah sahabatku sejak SMA, beruntung kami dapat bersama kembali dalam satu kampus dan jurusan yang sama.

“Win, gue seneng deh. Waktu responsi anatomi manusia, gue sukses jawab semua bagian mayat yang ditunjuk kak Lukman.” Ujarnya mengoceh di belakangku. Aku sempat menelan ludah ketika Tiara mengucapkan kata mayat persis di telingaku.

“Win, lo kok diam aja sih? Sariawan?” Aku hanya mengangguk menjawabnya.

“Makanya Win, sering-sering makan buah dong. Jangan cuma ngisep rokok doang kerjaan lo. Calon dokter kok gak bisa jaga kesehatan. Calon dokter kok ngerokok!” Ujarnya, lagi-lagi aku merasa disentil. Aku menghentikan mobilku persis di depan pagar rumah Tiara.

“Makasih ya, Win. Lo jangan lupa banyakin konsumsi vitamin C ya.” Kata Tiara mengingatkan, sekali lagi aku hanya mengangguk.

Aku melaju pelan, meninggalkan Tiara. Sebelum ujian responsi, aku pergi menemui salah satu dosenku. Beliau adalah dokter spesialis bedah mulut, drg. Arini, M.Sc. Aku mencoba berkonsultasi masalah pribadiku. Sudah 3 bulan sariawan di lidahku tidak kunjung sembuh. Mulutku baunya kian hari makin tidak sedap. Bertambahnya hari makin meluas lukanya. Seringkali aku diam, menggeleng atau mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang lain. Terkadang memakai masker, karena aku sendiri risih dengan kondisi mulutku saat ini.

“Erwin, sejak kapan kamu merokok?” Tanya beliau ketika selesai melakukan pemeriksaan padaku. Aku tidak heran beliau tau aku merokok, meski tidak pernah sekalipun aku menghisap batang tembakau itu di area kampus. Semua cukup terlihat dari penampakan diriku dengan badan kurus dan bibir yang menghitam.

“Hampir 7 tahun bu.” Jawabku layu.

“Itu waktu yang cukup singkat untuk sebuah penyakit, dengan sangat menyesal harus saya sampaikan diagnosa ini.” Ujar bu Arini tertahan sejenak. Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan nyali untuk mendengar kata selanjutnya dari Dokter Arini.

“Memang perlu observasi lebih lanjut dari penyakit yang kamu derita ini. Tapi saya rasa, ini bukan sariawan biasa.” Lanjutnya tetap tenang.

“Saya menduga, kamu terkena kanker mulut ganas. Tapi hanya dugaan sementara, tentunya kamu harus memeriksannya lagi ke rumah sakit dengan peralatan yang lebih lengkap.” Suaranya yang terdengar damai itu justru seperti sambaran petir bagiku. Kanker mulut? Ganas? Apa ini ada kaitannya dengan kebiasaanku menghisap tembakau?

“Erwin, kamu oke?” Tanya Dokter Arini, membuyarkan lamunanku.

“Tidak perlu cemas, segera saja diperiksakan agar lebih cepat ditangani.” Ujarnya, ketika melihat wajahku yang tiba-tiba memucat. Aku bergeming. Dokter Arini menyodorkan sebuah kartu nama.

“Ini teman kuliah saya dulu, dia lebih expert dalam hal ini. Temui dia di rumah sakit tempatnya praktek. Semoga bisa membantu kamu, Erwin.” Aku mengangguk berpamitan dan keluar ruangannya. Rasanya bumi bergoncang tanpa henti. Tubuhku sempoyongan, pandanganku sedikit pudar karena air yang menganak di mataku.

Setelah mengantar Tiara, aku melaju mobilku menuju rumah sakit yang disarankan oleh Dokter Arini.

“Selamat siang, saya ingin membuat janji dengan Dokter Nugroho.” Ucapku pada resepsionis rumah sakit.

“Atas nama siapa?” Tanya suster itu.

“Erwin.” Jawabku singkat.

“Oh Pak Erwin, mari saya antarkan. Dokter Arini sudah menelpon untuk segera menangani Pak Erwin.” Ujar suster itu. Aku sedikit terkejut, apa sebegitu daruratnya kah keadaanku ini hingga Dokter Arini pun turun tangan langsung? Tanyaku dalam hati. Aku bukan orang awam di dunia kedokteran. Aku hampir memasukin semester 6, sedikit banyak aku mengerti tindakan yang dilakukan dengan segera ini.

Akhirnya, kini aku berada di ruangan Dokter Nugroho, bersiap untuk vonis kematian.

*SELESAI*

n/b: Tulisan ini diikut sertakan pada lomba Diary Sang Zombigaret

Wanita

Wanita

Aku duduk menghadap keseluruh penumpang APTB (Angkutan Penumpang Terintergrasi Busway), duduk persis di belakang supir dan menghadap ke semua penumpang yang ada di dalam bus ini. Seolah semua mata hanya tertuju dengan aku. Masker hijau operasi masih setia bertengger menutup wajahku. Karena aku sendiri tidak terbiasa di tempat umum dengan bau khas masing-masing orang. Aku memperhatikan orang-orang di sekitar, ada yang tidur, ada yang sibuk dengan gadget mereka, ada yang sedang dirangkul oleh pasangannya mesra sekali, ada yang sedang mengobrol dengan temannya, dan ada juga yang sedang menawarkan produk MLM pada penumpang disampingnya. Perempuan modis,dengan dandanan yang sangat kontras dari seluruh penumpang yang ada di dalam bus ini, sedang sibuk berbisik halus menjelaskan lembaran panjang yang dibawanya pada seorang ibu muda berkacamata. Perhatianku tidak lepas dari mereka sedari perjalanan dimulai hingga keduanya berpisah. Sudut mataku awas melihat setiap gerak gerik mereka, dan telingaku seolah menjadi tajam seketika menguping pembicaraan. Tidak sopan memang, tapi ini caraku untuk mengusir jenuh dengan perjalanan panjang, Jakarta-Bogor. Hatiku masih terlalu rindu untuk berpisah dengan “mas”. Sesekali handphoneku berdering tanda pesan masuk. Mas selalu menanyakan dimana posisiku, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang. Selalu aku tidak pernah kuat menahan air mata untuk menganak dipelupuk mata. Kemudian jatuh, untung saja tertangkap oleh maskerku dengan cepat. Berharap tidak ada seorang matapun yang menangkap jatuhnya bulir bening itu.

Lalu perhatian aku kembalikan lagi pada dua perempuan di hadapanku. Yang seorang sedang gencar menjalankan bisnisnya. Yang seorang sedang galau dengan permasalahan dirinya dan masuk kedalam perangkap mangsa. Perlahan mataku menangkap tas dengan tulisan suatu produk kecantikan. Jelas sudah permasalahan wanita kedua. Ketidakpercayaan terhadap dirinya membuatnya mudah terhasut menjadi pundi uang bagi wanita pertama yang oportunis. Handphoneku kembali berdering, lagi-lagi air mataku menggenang. Pesan masuk dari mas. Aku pejamkan mata ini perlahan untuk menahan haru. Hatiku terlalu sensitif dan rapuh. Berusaha kuat dan tegar saat aku katakan ”Aku bisa pulang sendiri mas. Mas istrahat aja.”

Benar-benar butuh perjuangan untuk mengalahkan egoku sebagai seorang wanita. Karena dia sudah cukup berjuang untukku. Maka mungkin dengan sedikit waktu yang aku berikan, bisa membayar perlahan perjuangan itu walau tanpa diminta. Tidak tega aku membuatnya berjalan jauh mengantar hanya untuk memastikan aku baik-baik saja, melihatnya berdiri berjam-jam dan pulang kelelahan. Tidak, tidak lagi. Karenanya aku harus menjadi berani untuk waktu tertentu.

Dalam satu keadaan, dan tempat begitu banyak fenomena perempuan yang aku lihat. Seorang wanita karier yang semangat memperluas jaringan dimanapun dia berada, adapula wanita yang selalu meminta perlindungan laki-lakinya, dimanja dengan rangkulan kesatrianya, juga wanita yang terkadang tidak percaya diri dengan penampilannya yang telah terlahir cantik, dan ada wanita yang sensitive denganperasaannya. Semua wanita yang terekspresi dalam busway hari ini adalah penggambaran wanita kebanyakan yang umum. Walau mungkin tidak semuanya seperti itu, tetapi kebanyakan. Banyak ragam wanita yang belum terungkap, karena sebagian mereka “tertidur” diam di dalam bus ini. Yang mungkin sedang sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Makhluk yang tidak bisa dimengerti dengan mudah, karena dasarnya mereka sendiri susah untuk memahami kemauan diri mereka. Busway ini perlahan menurunkan satu persatu penumpangnya. Hingga menyisakan aku dan beberapa penumpang lainnya. Aku diam dalam lamunanku, berlari kearahnya. Aku masih rindu.

*SELESAI*

Landing

Landing

Telingaku mendenging, nyeri.  Airplane ear berulang kali sudah aku hadapi. Tapi belum pernah separah ini.Penerbangan malam membuat udara kabin semakin dingin. Aku merapatkan jaket hingga ke ujung leher. Melipat tangan seperti menahan sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri. Aku seperti terlempar jauh dari bumi. Keluar dari atmosfer manusia normal.

Saat capung besi raksasa ini mengudara, jiwaku serasa masih tertinggal jauh di bawah sana. Dipaksa berpisah, tercabut. Bernyawa tapi tidak, tidak tapi bernyawa. Hujan mengiringi keberangkatanku. Sedikit membuat cemas.  Sungguh 1,5 jam yang panjang.

Aku pun harus menahan mual mencium aroma parfum wanita dewasa di sampingku. Ku lihat, tak henti-hentinya dia mematut wajahnya di kaca kecil sepaket dengan bedak padatnya. Lalu sesekali mengambil tisu. Mengelap wajahnya yang tak berminyak, namun penuh dengan lapisan-lapisan powder yang dibawanya. Sesekali juga terlihat dia mengepalkan tangan dengan mata terpejam. Entah gugup, entah takut. Kami saling diam. Tidak sadar parfumnya hampir membunuhku.

Pandanganku beralih ke kaca jendela yang ada tepat di sampingku. Jakarta malam itu meriah sekali. Kerlap kerlip lampunya bak kunang-kunang yang tengah berbaris rapi membentuk formasi. Bukan gugusan bintang yang tercipta atau konfigurasi khusus. Tidak ada Indus, Lacerta, Lyra, Mesa, apalagi Andromeda.  Tapi garis lurus, seperti benang emas 24 karat yang ditarik lurus membentuk tali temali yang simpang siur. Tumpang tindih satu sama lain. Mengkilat. Aku tau, itu jalanan, dan kerlip itu adalah lampu mobil yang sedang berjuang menembus macetnya Jakarta. Dan aku tau, ada yang sedang berjuang juga di bawah sana untuk masa depan.

Beberapa kali aku merasakan turbulensi yang menakutkan, entah itu menabrak gumpalan awan, atau karena perbedaan tekanan, atau juga karena hembusan angin.  Semakin tinggi, asupan oksigen semakin berkurang. Nitrogen itu seolah menghimpit kami yang berusaha menembus batas kemampuan manusia untuk terbang. Makhluk tak bersayap, bipedal berdiri tegak. Tapi mampu terbang. Seolah satwa dan fauna bahkan udara yang tak bersuara ikut melirik iri. Entahlah, tapi sebenarnya itu semua tak berarti.

Baru sejenak pikiran itu melayang, mikirkan hal yang tidak-tidak. Pendaratan darurat, terdampar di pulau tak bernama, bahkan sampai ledakan di udara. Aku ketakutan dengan pemikiranku sendiri. Tiba-tiba hentakan itu terasa nyata di bangku tempat aku mengikatkan diri dengan seatbelt. Aku dapat merasakan dengan pasti perut pesawat ini telah mendarat atau mencium sesuatu. Entah itu permukaan laut, dataran savanna, atau hutan lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Bisa jadi “capung” ini akan terbelah menjadi beberapa bagian, atau parahnya hancur berkeping-keping menyisakan abu. Pikiran-pikiran itu menggigit seluruh keberanianku. melahapnya habis.

“Sampai di sini kah kesempatan aku bermukim di dunia ya Rabb?“ Pikirku pilu, sadar sejak awal lupa bermunajat memohon keselamatan.

“Tolong beri aku kesempatan, putar waktu kembali ke awal. Izinkan aku berdoa, memohon keselamatan. Bukan demi diriku, tapi demi orang-orang yang aku kasihi. Kabulkan doaku. Aku mohon.”

Tak henti aku berucap dalam hati, memejamkan mata erat-erat untuk mengkoneksikan hati dengan Dia. Hatiku ketir, mengingat di ujung sana, di seberang pulau orang tualu tengah menunggu kedatangan bungsunya dengan wajah lelah yang ceria. Senang. Wajah mereka sekelebat lalu lalang di pikiranku. Flashback kenangan manis selama ini. Betapa saat ini aku baru menyadari rahmat itu. Saat di mana aku merasa detik terakhir aku berada di bumi ini. Sadar, begitu banyak nikmat yang aku terima, tapi tidak sama sekali sepadan dengan syukur yang aku tunjukan.

Aku tersentak ketika roda itu berdecit nyaring beradu dengan deru mesin pesawat terbang. Sayap terkembang menarik udara menahan laju lari capung besi ini. Suara pramugari menggema, mengumumkan kami telat tiba. Pilot itu sukses mendaratkan pesawat kami pada landasan pacunya dengan baik saat aku benar-benar sadar dari mimpi panjangku. Tuhan masih mengijinkan aku untuk memohon. Terimakasih. Terimakasih sang Pencipta.

Potongan Wortel 6

Potongan Wortel 6

Tepat 3 bulan, panen wortel itu dimulai. Perkebunan wortel itu terlihat ramai oleh para warga yang selama ini membantu serta anak-anaknya yang ikut riang menambah riuh menjambut terik matahari. Kebanyakan dari mereka takjub melihat wortel yang keluar dari tanah kelahirannya. Ini pertama kalinya wortel-wortel itu ditanam pada daerah dengan tanah gambut dan suhu yang tidak biasa.

 

“Selamat ya Nad. Kamu berhasil.” Ujar Tasya tersenyum.

“Selamat buat kita semua Tasya. Ini keberhasilan kita semua. Maaf ya kalau dulu aku sempat merahasiakan ini semua.”

“Aku yang minta maaf, dulu pernah memaksa kamu.”

“Kamu dan Bagas adalah teman terbaik buat aku. Terimakasih sudah mensupport aku sejauh ini.” Nadia menatap mata Tasya dalam.

“Nad, kehormatan buat aku bisa kamu ajak sampai ke luar pulau Jawa. Besok mau kemana lagi?” Tasya mengerlingkan matanya pada Nadia.

 

Bagas berdehem mendekati mereka. Berdiri di samping Tasya. Sontak merah jambu mencuat di pipi Tasya yang mulai mencoklat. Nadia sedikit curiga.

“Seru ya obrolannya. Sampai kedip-kedipan mata. Mau dong dikedipin.” Bagas tertbahak-bahak, sementara Tasya wajahnya terasa panas karena malu.

“Tasya, gimana tuh Bagas, minta kamu kedipin juga,” goda Nadia.

“Apaan sih, ayo ah itu bantu panen.” Tasya pergi begitu saja, mencabut asal wortel yang ada di hadapannya.

“Nad, sukses ya. Planing selanjutnya apa?”

“Menikah Gas.” Nadia hanya menatap jauh. Rencana yang telah disusunnya sejak 3 tahun lalu telah tercapai, dan hasilnya nyata. Sedikit banyak membawa perubahan untuk masyarakat di sini. Memberikan alternatif pertanian yang lain, yang lebih menguntungkan. Bagas mematung, harapannya sekarang seperti kabut, sekali angin itu bertiup. Maka lenyap sudah semuanya. Tidak akan ada yang tersisa dari dirinya.

“Sama Imran, Nad?”

“Menurutmu?” Jawab Nadia datar. Apa yang diucapkan Bagas adalah harapan yang selama ini belum juga terwujud. Bahkan Nadia tidak pernah tau apa jawaban dari pertanyaannya. Empat tahun bersama Imran. Empat tahun itu pula gesekan keras diantara mereka terjadi, percikan api selalu muncul disela-selanya. Sampai saat ini bahkan Nadia belum melihat sedikitpun indikasi Imran akan datang untuk memintanya. Sementara di dunia yang bersebrangan, Bagas sibuk berspekulasi, mengira-ngira sepulang dari sini dia akan menerima undangan dengan inisial N & I. Hatinya menggigil pilu. Bukan ingin menghancurkan hubungan Nadia dengan Imran, tapi sampai saat ini dia belum mampu menggantikan sisi hatinya dengan orang selain Nadia.

“Gas.”

“Iya Nad?”

“Merasakan sesuatu yang aneh dengan Tasya?”

“Sesuatu apa?”

“Sepertinya Tasya lagi jatuh cinta,” ujar Nadia berspekulasi.

“Menurutku dia akhir-akhir ini lebih cuek sama aku. Udah enggak easy going lagi.”

“Mungkin dia suka kamu Gas?”

“Ah, mana mungkin Nad. Tapi emang mempesona kali ya?”

Nadia menoleh, memandangi Bagas dari atas sampai bawah.

“Hati-hati Nad, jangan liat-liat kamu. Ntar naksir bahaya,” ujar Bagas yang sebenarnya gugup diperhatikan oleh Nadia.

“Kak Nadia!” Teriak gadis kecil di ujung sana. Anita yang selalu ceria.

“Iya Anita!” Balas Nadia tak mau kalah.

“Sini donk, jangan pacaran terus sama Kak Bagas.”

Bagas yang disebut namanya kikuk mendengar kata pacaran. Seandainya pintu hati perempuan disampingnya ini masih terbuka. Bagas siap datang menghadap ayah Nadia. Tapi kunci itu sudah dipegang oleh Imran. Nadia berlari menghampiri Anita, meninggalkan Bagas yang hanya bisa melamunkan semua impiannya.

Potongan Wortel 5

Potongan Wortel 5

Setibanya Tim di pulau Kalimantan, mereka hari itu tidak langsung bekerja. Menikmati panorama alam di sekitar yang didominasi oleh pepohonan rindang adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Selain itu mereka semua butuh adaptasi dengan lingkungan sekitar. Jauh memandang ke ujung, hutan yang terbentang, walau sebagian sudah menjadi perkebunan sawit. Setidaknya bukan gedung tinggi seperti yang biasa mereka lihat. Suhu di sini jika terik dapat mencapai 35oC. Sementara wortel milik Nadia dapat tahan hingga suhu 45oC. Nadia sangat berharap proyeknya ini berhasil. Harga jual wortel per kg di pulau ini terbilang mahal. Karena transportasi yang cukup jauh, sementara kebutuhan wortel pulau Kalimantan masih disuplay dari pulau Jawa.

 

Rombongan Nadia tinggal di rumah Pak Lurah di desa Baamang. Tidak ada mall di sini. Listrik menyala pun sudah menjadi barang mewah di kampung ini. Pak Lurah sudah mengkoordinasi warga sekitar untuk meminjamkan lahan pertanian mereka sementara waktu. Banyak warga yang masih ragu, butuh kerja keras untuk tim meyakinkan mereka semua. Wortel bukanlah tanaman yang sering mereka jumpai, bahkan tidak pernah ada. Mengkonsumsinya pun mereka tidak pernah, karena harga yang selangit. Dua minggu mereka di desa itu, baru sekitar 5 warga yang bersedia meminjamkan lahannya dengan syarat. Tim harus mengganti rugi karena mereka tidak dapat menanam pagi. Keduabelah pihak membuat kesepakatan. Proyek berjalan di minggu ke tiga.

Planlet mulai diaklimatisasi pada lahan pertanian yang telah disiapkan. Dari 100 eksplan hanya 20 yang berhasil tumbuh segar. Sengaja ini sebagai percobaan awal. Melihat respon planlet terhadap lingkungan sekitar. Ternyata hanya 20%. Nadia dan tim mencoba untuk memodifikasi tempat tanam dengan membuat rumah-rumah kecil untuk bakal calon wortel-wortel itu. Cara ini cukup ampuh untuk membuat persentase pertumbuhan bertambah. Warga semakin semangat bercocok tanam wortel.

“Mbak Nadia, kira-kira kapan kita bisa panen?” Ujar salah seorang warga.

“Insyaallah 1 minggu lagi Pak.” Nadia tersenyum.

 

Sudah 2 bulan 3 minggu Nadia dan teman-temannya berada di desa ini. Meskipun awal yang sulit harus mereka jalani. Namun mereka semua yakin setiap perjuangan pasti akan berujung manis.

“Kak Nadia!” Teriakan seorang anak perempuan terdengar dari kejauhan. Nadia tau siapa yang berteriak. Lantas Nadia melambaikan tangannya. Anak itu mendekat. Tapi lama sekali. Seperti biasa Nadia menunggu dengan sabar. Anak itu datang terseok-seok dengan tongkat di tangan kanannya.

“Kak, ayo kapan kita belajar membaca lagi?” Ujar anak itu semangat. Anita, gadis mungil dengan kulit terbakar. Rambut panjang yang lurus dan dengan kaki kanan yang mengecil karena penyakit folio yang menyerangnya sejak umur 4 tahun.

“Sekarang yuk.” Nadia memapahnya ke gubuk yang selama ini menjadi tempat mereka istirahat. Anita adalah teman barunya di sini. Anak periang yang seolah tanpa beban dengan kondisinya. Dia tidak pernah peduli dengan kaki kanannya yang tidak normal.

“Kak, masih lama kan di sini? Anita masih belum bisa perkalian Kak.”

“Dua minggu lagi. Makanya Anita yang semangat ya belajarnya.”

“Dua minggu? 14 hari lagi Kak? Kenapa cepat sekali?” Wajahnya murung.

“Itu masih lama. Kakak janji Anita sudah pandai berhitung sebelum kakak pergi.”

Anita hanya tersenyum tipis. Wajahnya masih saja murung. Baginya, Nadia dan kakak lain seperti Tyas dan Bagas adalah oase penyejuk. Dari mereka Anita mulai belajar. Gadis pintar ini mampu membaca dalam waktu dua bulan. Tidak hanya Anita yang merasakan pedihnya perpisahan. Nadia pun begitu, namun ia harus kembali ke Jakarta. Dia pun sudah merindukan Imran. Suatu saat, Nadia berjanji akan kembali untuk Anita.