Rumus Patah Hati

Rumus Patah Hati

Ini adalah kisah tentang patah hati.

028579300_1423803967-8395

Itu kalimat awal yang saya dengar dari film yang beberapa waktu lalu ditonton. Film patah hati yang dijadikan komedi.

Lalu saya tetiba teringat dengan perasaan p
ahitnya jatuh cinta. Penulis ceritanya keren juga, bisa mensulap patah hati jadi sebuah lawakan. Eits, ini bukan review dari film itu ya.

Di sini saya juga ingin mentertawakan kepatahatian itu. Ternyata setiap momen yang pernah kita rasakan itu sangat berharga. Jadi sayang sekali kalau hal itu terlewatkan begitu saja tanpa pernah tercatat di lembar sejarah (apasih!).

Menurut saya jatuh cinta dan patah hati itu sepaket, kalau mau ngerasain jatuh cinta, berarti harus siap sama perasaan patah hati. Kalian pasti setujukan? Setujuuuuuu

Patah hati pernah menyita sebagian waktu saya di masa lalu. Kalau penulis skenario film itu bilang, “patah hati terhebat”. Mungkin maksudnya patah hati yang bikin hati ini sakit banget, terus rasanya kayak di iris-iris lalu lukanya diperas pake jeruk nipis… iiiiisssshhh…

Nyatanya emang begitu rasanya.

Belum pernah ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya kan? 😀

Kalau dulu saya ceritanya sambil nangis bombay, sekarang bisa sambil senyum-senyum. Karena sudah mulai waras dan berfikir, kenapa dulu beg* banget.

Adakalanya sesuatu perlu diceritakan untuk ditiru, namanya teladan.

Ada juga sesuatu yang diceritakan untuk diambil pelajaran dan tidak perlu dicontoh, maka namanya pengingat.

Nah, bagian saya yang kedua ini aja.

Sebutlah dulu saya berbuat kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain, yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu. Sejatinya, menurut saya saat ini, tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak bisa diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab.

Bahasanya belibet ya? Saya mau langsung tapi gak enak, karena banyak penganut pahamnya di sini 😀

Begini deh, kita terjemahkan satu-satu aja.

Kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu = PACARAN

Tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab = GAK USAH DEH PACARAN-PACARAN

Jelas begitu? 😀 Kasarnya sih begitu.. Ya maap lah kalau menyinggung para penganut paham itu. Di sini saya cuma mau memainkan peran sebagai saudara yang senantiasa mengingatkan saudaranya.

Oke, kembali ke jatuh cinta dan patah hati.

Dalam “kegiatan” yang banyak sekali penganutnya itu, (lagi-lagi menurut saya) tidak seimbang antara jatuh cinta dan patah hatinya. Yes! Gak seimbang.

Coba deh, jatuh cinta dalam “kegiatan” itu sebutlah paling lama 3 bulan. Selebihnya kemungkinan patah hati dan saling menyakiti. Kalau bisa dihitung pake rumus

n-x=y*

Dimana:

n= jumlah tahun jadian sampai kalian putus

x= jumlah bulan waktu masih sweet2nya (biasanya nih paling lama 3 bulan: hasil observasi)

y= lamanya penderitaan kalian (dalam satuan waktu) karena patah hati, nangis, berantem, belum di tambah maki-makian.

Maka semakin besar nilai N, maka akan semakin besar nilai Y. Berbanding lurus.

Patah hati itu kan banyak sebabnya, dari mulai karena perkataan yang kasar dan menyakiti, ketidak pedulian, tidak diakui dilingkungan salah seorang diantaranya, atau juga karena ditinggalkan dengan berjuta alasan. Jadi logis aja dengan rumus seperti itu ya.

Kalau sudah begitu, hati terlanjur perih, susah makan, susah tidur, murung, menyendiri. Anyway itu tanda-tanda depresi juga lho.

Yang perlu dilakukan cuma satu, di ikhlaskan. Membiarkan diri seperti itu beberapa saat, karena emosional kita juga punya hak untuk sedih, marah dan kecewa. Tapi ingat, jangan kebablasan. Itu namanya dzholim sama diri sendiri lho. Lalu, setelah itu segera tentukan goals dari hidup kita, menata hati, menata pikiran, menata hidup. Paling penting, jangan lagi terlibat dengan paham-paham masa lalu. Gak mau-kan hatinya di obrak abrik lagi dengan cara yang serupa?

Maka jatuh cintalah dengan cara yang aman.

Jatuh cinta yang paling aman adalah ketika kita siap dan bersedia untuk bertanggung jawab. Ini perasaan, jangan dianggap sesuatu yang remeh. Artinya, menikahlah.. Bukan sekedar perayaan, tapi bukti kesungguhan.

Yuk, jemput seseorang itu dengan cara yang baik-baik.

*Rumusnya masih bisa berubah ya berdasarkan asumsi yang kemungkinan bisa merubah persamaan 😀

nb: Tulisan ini boleh sekali untuk di kritik dari segi konten dan cara penulisannya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s