Cerita dari 2.930 mdpl

Cerita dari 2.930 mdpl

Merbabu dari Merapi
Doc. Pribadi (Meyta, 2013)

Pendakian pertama menuju puncak kawah Gunung Merapi yang awesome banget! Perjalanan dari basecamp menuju puncak dimulai dari jam 12 malam. Sebelumnya aku memang belum baca-baca soal jam ideal untuk mendaki, jadi ya terima aja kalau diajak naik tengah malam dengan suhu dibawah 20 derajat, dan ternyata jam ideal setiap pendaki itu beda-beda.

Orang bilang ini perjalanan konyol. Sebagian juga bilang kalau aku cari mati. “Refreshing di gunung? Kayak gak ada tempat lain aja mbak.” Kata-kata yang agak kejam untuk pendakian pertama, bikin down. Tapi emang iya sih persiapan secara fisik minim banget, logistik dan peralatan standar mendaki juga pas-pasan. Namanya juga pendaki pemula yang udah terlanjur kepengen merasakan hawa puncak. Mendakikan learning by doing. Semakin banyak mendaki, semakin tau apa yang harus dibawa dan apa yang harus dipersiapkan. Sayangnya belum pernah ada yang kasih tau kalau mendaki itu yaah.. “sesuatu”.

            Aku kira langkah kaki pertama ini bakal seru diiringi dengan sorak sorai gegap gempita orang-orang yang kegirangan dapat izin (memaksa) dari orang tuanya untuk menyusuri lereng hingga puncak gunung. Perasaan itu kayaknya cuma punya aku, karena ekspektasiku, NOL besar! Anggota tim yang lain sepertinya kompak buat berdiam diri, menatap langkah kaki masing-masing sembari mengatur nafas yang sudah mulai putus-putus. Bukan langkah kaki mereka yang saling kejar-kejaran, tapi nafas diantara mereka saling memburu satu sama lain. Situasi kayak gini emang gak pas kalau mau rame-rame, energi bicaranya lebih baik disimpan untuk bisa melangkah lebih jauh, jauh dan jauh lagi. Saat mendaki seperti inilah persiapan fisik sebelumnya itu punya peran besar, minimal 1 minggu sebelum pendakian kita harus latihan fisik biar gak gampang capek kayak kakek-kakek encok.

            Ngomong-ngomong soal izin, itu kayaknya jadi hal keramat deh waktu naik gunung. Tiba-tiba jadi horor kalau ada temen yang gak dapat izin mendaki dari orang tuanya. Izin itu bentuk kepercayaan orang tua ke kita buat bertanggungjawab jaga diri sendiri di jungle yang sebenarnya. Ibaratnya, izin itu tiket kamu buat mendaki. Kalau belum dapat jangan coba-coba mendaki deh, itu bentuk sikap yang gak bertanggung jawab banget. Selain membahayakan diri sendiri, juga membahayakan tim mu. Perasaanmu akan di hantui rasa was-was dengan ketidaktahuan orang tua. Sereeem!

            Masih pertama, jadi masih polos ya. Gampang banget dikibulin, “masih lama ya?” Pertanyaan itu akan selalu muncul di setiap meter kaki melangkah. Rasanya kok udah jauh banget jalan tapi gak nyampe-nyampe. “Enggak kok tinggal dikit lagi.” Kayaknya mereka sudah jawab itu sejak kami lewat pos satu, dua dan seterusnya. Ternyata semakin aku bertanya, maka semakin banyak teman-teman seperjalanan yang berbohong. Tapi bersyukur banget kali ini dibohongi, dibalik kebohongan mereka itu justru membantu menumbuhkan semangat untuk terus berjuang. Iya, puncak memang sudah dekat. Sejak kamu dari basecamp seenggaknya kamu sudah dekat dengan puncak dibandingkan dengan mereka yang ada di pesisir pantai sana.  Seenggaknya mereka berusaha mengeluarkan kata-kata yang positif. Coba bayangin kalau mereka ngejawab “Masih jauh banget lah, kira-kira masih 6 jam lagi.” Jalan kaki 6 jam?!!!!!!!!!

            Kadang disela-sela lelah yang mendera itu, terselip penyesalan kenapa dan untuk apa bersusah payah mendaki ditengah malam yang dinginnya membekukan ini. Menantang bahaya yang cuma bermodalkan 1 nyawa, untuk apa? Kalau ada apa-apa gimana. Kayaknya aku harus mengakui kalau ini konyol. Tapi, selalu ada tangan yang terulur untuk menarik semangat itu bangkit, dari kata-kata yang menyentil pedas “awas lu ya besok, jangan ngaku naik gunung merapi kalau belum sampai puncak” juga yang penuh pengertian “jalannya pelan-pelan aja, nanti juga kita sampai kok.” Iya juga ya, kita cuma perlu melangkah, kalau lelah yang kita perlu istirahat. Selama kita melangkah, maka puncak bukan sesuatu yang mustahil. Selama tubuh mu belum menua dan renta, nafas mu masih kuat memburu, apa yang salah jika memaksa kaki ini berjalan lebih jauh? Kecuali satu hal, situasi lingkungan yang gak mendukung. Erupsi, badai atau kondisi lain yang gak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Maka hentikan segera!

            Teman-teman punya andil besar untuk kita bisa mencapai puncak impian. Sedikit yang mereka ucapkan, tapi energinya besar. Detik ke menit, langkah demi langkah, tanjakan dan turunan, teman tim dalam pendakian yang punya banyak pengaruh besar. Kebayang waktu jatuh bangun menuju bibir kawah gunung merapi. Karena teman yang baik itu yang membantumu naik menuju puncak, bukan yang menantimu di puncak. Karena mereka aku menangis haru diantara asap belerang. Cerita dari 2.930 mdpl.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s