Jembatan Pelangi Orchid

Jembatan Pelangi Orchid

“Musim hujan begini?” Arka terkejut mendengar permintaan Mala.

“Ya kapan lagi Ka? Dia cuma ada di musim penghujan.” Ujar Mala merayu.

“Kamu sadar gak, cuacanya sekarang lagi buruk banget, Mal. Gak mau ah!”

“Sekarang lagi gak buruk, Ka. Lihat deh langitnya cerah kok.” Bujuk Mala gigih. Keinginan Mala untuk melihat si cantik bidadari sangat kuat. Menurutnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berkunjung kembali. Malaxis oculata adalah anggrek tanah yang umum dengan nama anggrak pelangi. Mala ingin mengulangi kejadian yang sama seperti tahun sebelumnya, saat ia melakukan pendakian singkat di Bukit Plawangan, Yogyakarta. Mala ingin melihat Maxalis di sepanjang lengkungan pelangi itu.

****

    Akhirnya di sini lah Arka dan Mala, di depan gerbang selamat datang bukit Plawangan. Mala berhasil mengajak Arka untuk menyusuri setiap semak belukar yang ada di bukit ini untuk sebuah foto. Ya setidaknya seperti itulah apa yang ada dibenak Arka sebelum Mala menceritakan rahasia besarnya yang ada di bukit Plawangan ini.

“Mal, gak usah ngayal yang aneh-aneh deh. Bentar lagi mau ujan nih.” Arka berulang kali menengadahkan wajahnya melihat langit yang semakin pekat oleh awan nimbostratus.

“Justru ini saatnya, Ka. Aku pengen nunjukin ke kamu sisi lain dari Malaxis.” Ujar Mala antusias.

“Jas ujan, senter, logistik, air, korek, udah semua?” Tanya Arka memastikan dengan wajah cemas, karena dirinya sadar betul bahwa perjalan ini sangat beresiko dengan curah hujan yang tinggi.

“Sip, udah.”

Keduanya kemudian berjalan melalui pos untuk melaporkan pendakian singkat mereka sore ini.

“Maaf mas, ini cuacanya sedang buruk. Masih mau naik ke atas?” Tanya juru kunci daerah tersebut.

“Cuma sebentar kok, Pak.” Mala segera menjawab sebelum Arka membatalkan perjalanan ini.

“Oh ya sudah mbak, hati-hati ya. Jalannya licin.”

“Siap, Pak.” Ujar Mala mantap dan kemudian mereka berdua memulai perjalanannya.

“Aku di depan ya, Ka.” Ujar Mala basa basi karena Arka hanya diam saja, Mala mengerti sekali saat ini dia sedang menantang maut.

Arka dan Mala berteman sejak pertama kali mereka masuk ke dalam unit kegiatan mahasiswa orchid yang ada di kampus. Semua yang tergabung menjadi anggota adalah pecinta anggrek dari hibrid hingga anggrek hutan yang hanya muncul pada musim tertentu, termasuk mereka berdua. Mereka rela berpayah-payah menyusuri semak belukar, mendaki gunung berhari-hari, demi dapat melihat kesayangan mereka tumbuh pada musim itu. Seperti halnya Mala saat ini, namun kali ini perjalanan Mala berbeda. Tahun lalu gadis yang memiliki perawakan mungil itu mendapat pengalaman yang tidak terduga ketika dirinya terpisah seorang diri jauh dari teman-temannya yang ikut mengamati anggrek.

“Arka?” Panggil Mala sembari terus berjalan ke depan tanpa menoleh.

“Arka?” Panggilnya sekali lagi.

“Hmm..” Hanya itu suara yang dia dengar dari belakang. Mereka mulai berjalan naik, nafasnya mulai tersengal-sengal satu dua. Udara disekitar semakin dingin, angin berhembus pelan, kilat menyala tanpa suara. Sebentar lagi, batin Mala. Selama pendakian kebanyakan orang memilih diam menikmati perjalanan. Selain lebih hikmat, juga dapat menghemat energi untuk perjalanan yang panjang.

“Arka?” Panggilnya lagi tanpa menoleh, seketika itu hujan turun perlahan.

“Arka?” Tidak ada jawaban seperti tadi dan akhirnya Mala menoleh, tidak ditemukan siapa-siapa di belakangnya. Hujan mulai menghujam tanpa ampun. Tinggal beberapa meter lagi akan ada goa jepang. Mala bergegas naik lebih ke atas untuk mencapai goa, tapi hujan semakin deras. Menyerang tanpa ampun. Jalanan semakin bertambah licin, beberapa kali Mala terpeleset  jatuh.

Kejadian ini persis seperti waktu itu, pikir Mala. Saat dirinya sendiri terjebak hujan yang sangat deras, alat komunikasinya pun tidak bisa digunakan. Tidak ada sinyal, bahkan sekedar untuk mengirim pesan SOS. Akhirnya Mala sendirian terpaksa berteduh di dalam Goa jepang yang ada. Goa itu sengaja dibangun pada zaman dulu sebagai tempat berlindung. Dulu, setahun yang lalu Mala ketakutan seorang diri melawan gelap dan dingin yang menusuk kulit. Goa itu gelap gulita, tidak terlihat sama sekali ujungnya.

Kali ini dia sengaja membawa Arka untuk memperlihatkan sesuatu yang tersimpan dibalik gelapnya goa itu. Sayang sekali sepertinya dirinya sengaja dipisahkan dari Arka oleh alam. Mala berharap Arka baik-baik saja. Alam sepertinya tidak merestui niatnya untuk membagi hal itu pada Arka. Mala menyalakan senter dan berusaha mencari-cari jamur itu. Jamur yang akan membawanya menuju jembatan pelangi. Jamur berwarna kuning keemasan yang dulu tidak sengaja dicabutnya. Jamur itu mengeluarkan wangi yang tidak biasa seperti jamur-jamur lainnya. Tidak lama Mala seperti terhipnotis, matanya mulai berkunang-kunang karena aroma jamur itu, pandangannya mulai kabur, lalu gelap.

****
“Jembatan pelangi!” Pekik Mala dalam hati. Jembatan yang terdiri dari warna-warni pelangi, Mala berjalan ragu, melintasinya perlahan. Bening sperti kaca, tapi bukan. Ini pelangi! Mengalir air dibawahnya dengan bunyi air yang gemericik seru.

“Ini benar-benar pelangi.” Ujar Mala meyakinkan dirinya sendiri. Hati-hati sekali dia melangkah, takut terjatuh. Seandainya Arka melihat semua ini, Mala menyayangkan dirinya harus terpisah dengan Arka dalam perjalanan. Di ujung jembatan Mala melihat kemilaun cerah, tidak sabar rasanya untuk bisa mencapai penghujung jembatan itu. Perlahan tapi pasti terlihat hamparan Malaxis oculata dengan tangkai yang menjulang. Tidak hanya itu, sisi lain juga dipenuhi dengan Aerides houlletiana, warna kuningnya menyala menyilaukan mata. Semakin jauh Mala berjalan semakin banyak jenis anggrek yang baru pertama kali dilihatnya. Lebih indah dari anggrek hibrid hasil persilangan itu. Bahkan mungkin semua anggrek dari musim apapun ada di sini.

Foto! Pekiknya dalam hati. Bergegas Mala mengeluarkan kamera DSLR keluaran yang paling baru, dibukanya penutup lensa. Tapi seperti ada yang salah, berkali-kali tombol “on” ditekannya, kameranya tetap tidak mau menyala. Dunia apa sebenarnya ini? Keindahan di depan matanya saat ini tidak mampu diabadikannya. Entah kapan lagi bisa kembali ke sini, pikir Mala murung. Bagaimana Arka bisa mempercayai ceritanya kali ini. Sekali lagi diedarkannya pandangan kesegala pejuru, menikmati selagi bisa menikmati. Merekam sebanyak mungkin momen berharga ini. Mungkin memang ini semua hanya akan menjadi rahasianya. Atau mungkin tempat ini hanya memilihnya untuk mengetahui ini semua? Biarkan alam yang memilih. Ujar Mala berkata pada dirinya sendiri. Terlihat titik gelap diseberang jalan dia berdiri, titik itu seolah menyedotnya untuk masuk ke dalam. Mala terhisap oleh titik gelap itu.

****

“Mala?” Seseorang menepuk-nepuk pipinya menyadarkan.

“Arka?” Ujar Mala bangun, hampir terlonjak karena terkejut.

“Ya ampun Mala, aku nyariin kamu. Ternyata di sini, aku hampir mau turun lagi lapor ke juru kunci.” Ujar Arka dengan wajah yang khawatir.

“Arka, kali ini aku melihat itu lagi.” Berharap Arka percaya dengan ceritanya kali ini. Mala sudah pernah menceritakan pengalaman pertamanya pada Arka ketika dia melintasi jembatan pelangi itu. Tapi Arka menganggap dirinya terlalu banyak berkhayal.

“Sudah ya kita turun dulu. Sudah terlalu malam kita di sini, lagian kamu basah kuyup begini.”

Mala sadar dirinya tidak bisa memaksa Arka untuk percaya pada apa yang tidak Arka lihat. Akhirnya Mala mengikuti saran Arka untuk turun dan tidak lagi banyak bicara. Dirinya terlalu lapar untuk bercerita yang nantinya hanya akan dianggap khayalan. Mala berusaha berdamai dengan dirinya sendiri untuk menyimpan keindahan itu seorang diri.

Sesampainya di bawah, Mala segera mengganti bajunya yang basah. Mala dan Arka pun kembali ke kota Jogja. Arka kemudian menghentikan motornya di salah satu rumah makan, tempatnya nyaman. Akhirnya Arka paham kalau aku sangat lapar, ujar Mala dalam hati sambil terkekeh. Dia sudah melupakan keinginannya bercerita, atau lebih tepatnya memaksa Arka percaya pada ceritanya.

“Ngapain senyum-senyum sendiri gitu, Mal?” Tanya Arka.

“Ha? Enggak papa, kamu ngerti juga kalau aku lapar.”

“Oh kamu lapar? Aku malah gak tau, kalau aku emang laper banget.” Raut mukanya serius. Mala salah tingkah. Aku terlalu GR ternyata, batinnya.

“Ka, tadi kok kita bisa pisah di jalan?” Tanya Mala penasaran, setelah mereka mendapat meja.

“Aku berhenti sebentar, minum. Taunya kamu udah gak kelihatan.” Jawab Arka.

“Oh..” Ujar Mala pendek.

“Mal..”

“Hmm?”

“Aku tadi juga lihat, apa yang dulu kamu bilang, awesome journey.” Ujar Arka berbisik.

Mala memekik terkejut, matanya membulat tidak percaya.

**SELESAI**

Nb: Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” yang di selenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s