Rindu (memang) tidak Sederhana

Rindu (memang) tidak Sederhana

Beberapa tahun terakhir ini tidak lagi pernah aku merasakan perasaan Rindu.

Bagiku, Rindu yang berat itu tidak ada. Karung beras justru lebih nyata beratnya.

Serindu-rindunya aku pada bapak ibuku, aku masih bisa menanggungnya. Serindu-rindunya aku pada ponakanku, masih bisa aku bertahan merasakannya. Beda. Ini rindu yang beda.

Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasakan bahwa Rindu ternyata berat sekali. Sungguh. Ini bukan bualan. Dilan tidak membual. Aku membuktikannya. Duh, aku ini kenapa. Ini sudah gak bener!

Kalau kamu (yang baca) menebak aku sedang jatuh cinta, maka kukatakan TIDAK!

Sungguh, tidak ada perasaan seperti itu. Tepatnya, aku tidak ingin memiliki perasaan yang seperti itu.

Ini thread Curhat?

Iya mungkin. Sudah lama ndak curhat sama kalian 😀

Jadi, memang belakangan ini aku mengesampingkan untuk “menjaga hati”-ku. Karena menurutku, aku aman dari perasaan-perasaan yang tidak seharusnya (ini tidak untuk ditiru. Dari sini aja udah salah. Takabur).

Sungguh ya, main hati itu mudah sekali. Para musuh kita (setan) bakalan terdepan mendukung dengan bisikan-bisikannya yang berabad-abad lalu juga sudah ada.

Pilihan kita menjaga hati itu yang memang sulit. Tapi bisa kok!  Kalau kita mau.

Di sini aku hanya ingin berbagi. Seberat apapun masalahmu, sekesepian apapun dirimu, dan bahkan seramai apapun hari-harimu.

Jangan lupa untuk tetap jaga hati, jiwa dan ragamu.

Kalau bukan kamu siapa lagi? Meskipun orang lain bantu menjaga hatimu dengan aturan-aturan yang ada tanpa tertulis, tapi kalau kamunya gak ingin jaga hati, yawis..

Rindu yang berat, itu memang buah dari tidak dijaganya hati seseorang.

Berat. Wislah, jangan sampai kamu merasakannya. Cukup aku saja.

Ini adalah sebuah nasihat bagimu dan untuk diriku juga.

Dari seseorang yang sedang berjuang untuk melepaskan rindu.

 

 

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca opiniku yang mungkin unfaedah ini.

Nanti kita ketemu lagi ya.. Jangan rindu.. Plis..

Iklan
Ma’hadi Jannati: Rabingah Prawoto

Ma’hadi Jannati: Rabingah Prawoto

Sesuai dengan janji di-posting-an sebelumnya, aku mau bercerita tentang asrama yang “aku banget”  :D.

IMG-20180503-WA0009
Gedung Asrama PPMi Rabingah Prawoto

 

Well, kenapa “aku banget”, karena sebelum memutuskan out dari kos-kosan yang sudah 4 tahun aku tinggali tanpa pernah kepikiran untuk pindah-pindah kos seperti orang kebanyakan, aku sudah berkeliling mencari asrama dengan beberapa kriteria.

Pertama, asrama itu harus bersih. Kedua,  satu kamar maksimal ditempati oleh 2 orang dan punya ruangan yang luas. Ternyata dari dulu banyak maunya. Haha

Aku udah muterin Jogja sana-sini, gak ada yang sreg di hati. Sampai suatu ketika bersilaturahim ke rumah seorang sahabat, dan bertemu dengan sahabatku yang lain. Asni dan Wulan, betapa Allah telah menggariskan itu semua dengan apik dan romantis.

Pertama kali aku lihat PPMi Rabingah Prawoto dari sebuah foto di handhone Asni. Asni punya foto depan asrama, foto kamarnya, dan seketika aku langsung memutuskan “Aku mau disitu aja, As!” Semua kriteria yang aku cari ada di Rabingah Prawoto. Hanya karena melihat fotonya aja (Rabingah Prawoto), hatiku langsung “KLIK”! Mungkin ini namanya Jodoh. #uhuk

Pondok Pesantren Mahasiswi Rabingah Prawoto atau PPMi Rabingah Prawoto memang pondok pesantren yang dikhususkan untuk mahasiswi yang sedang berkuliah di jogja. Jadi, Pondok Rabingah itu adalah cita-cita dari Bu Rabingah, istri dari Bapak Prawoto Mangkusasmito. Beliau ingin mahasiswi yang sedang bersekolah di jogja tidak hanya intelek namun memiliki karakter kepemimpinan,  bersosial tinggi, berwawasan lingkungan dan bersatu dalam persaudaraan Islam (Hanna, 2018 unpublish).

Berangkat dari cita-cita Bu Rabingah, putrinya Sri Sjamsiar Issom mewujudkan mimpi itu  dengan membangun PPMi Rabingah Prawoto di jantung kota Yogyakarta.

Bapak Prawoto sendiri dulunya adalah Ketua terakhir partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Beliau juga pernah menjadi wakil perdana menteri di tahun 1952.

Aku jadi berasa punya kakek tokoh nasional beneran!

Begitulah sekilas sejarah dari PPMi Rabingah Prawoto. Aku bangga menjadi bagian dari cita-cita Bu Rabingah 🙂

Tahun 2014, bisa disebut tahun hijrahku selama di Jogja. Anak kos-kosan sejati, dengan individualisme yang sangat tinggi, tentulah diiringi dengan sifat egois juga. Berbanding terbalik dengan keadaan di asrama. Di asrama lebih hangat orang-orangnya, peduli satu sama lain, semuanya saling berusaha memahami karakter satu dan lainnya. Hingga rumah itu hidup dan nyaman untuk penghuninya.

Rabingah Prawoto masing-masing angkatannya punya masa studi selama 2 tahun, anyway aku angkatan ke-VI. So, masa pendidikanku di sana dari 2014 sampai 2016, dan itu adalah tahun-tahun terbaik yang pernah aku punya.

Berawal dari sanalah aku menjadi punya banyak saudara perempuan yang berasal dari berbagai macam daerah. Even though, kita sekarang udah mencar sana sini, kebanyakan juga udah pada menikah, kalau ketemu lagi jangan tanya senengnya kayak apa deh! Kami memang gak satu ibu, gak sedarah, tapi kami serahim dalam hal ilmu 🙂

Aktivitas di pondok bisa dibilang cukup padat. Kegiatan dimulai setelah shalat subuh dengan hafalan dan muraja’ah juz 30. Setelah itu dilanjutkan dengan kelas pagi hingga jam 6 dan kelas malam yang dimulai pukul 20.00-21.00. Ada beberapa matakuliah yang sudah ditetapkan dikurikulum, dan itulah yang ditempuh selama 2 tahun.

Asrama hijau lantai 3 itu udah kayak rumah. Kemanapun kita pergi, pasti akan selalu ada tempat untuk pulang. Itu yang aku rasakan setelah wisuda pondok dan sudah tidak lagi di pondok.

Terimakasih untuk Ibu Rabingah atas cita-cita mulianya, terimakasih Ibu Sri atas usahanya  untuk mewujudkan cita-cita itu, hingga kami dapat merasakan manfaatnya hingga saat ini 🙂

Rabingah prawoto pun seperti para pendahulu-pendahulunya, dimana berisikan perempuan-perempuan yang luarbiasa.

Sekali lagi aku bersyukur. Allah masih memberi kesempatan untuk aku kembali lagi ke PPMi Rabingah Prawoto di akhir tahun 2017 until present 🙂

Jika dulu aku datang hanya menerima input apapun dari pondok, kali ini aku kembali untuk bisa bermanfaat. Semoga, semoga benar-benar memberikan manfaat.

Angkatanku menjuluki asrama ini “Ma’hadi Jannati” dalam bahasa arab, jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti “Rumahku (red: asrama) Surgaku”.

Biasanya kan Rumahku Surgaku ya :p

Tapi artinya Ma’had sendiri bukan rumah sih. Jadi yasudahlah anggap aja rumah. Hahaha

*****************

By the way, PPMi Rabingah Prawoto sekarang lagi buka pendaftaran santri baru angkatan VIII lhooo..

Kalau kamu pengen mencari  lingkungan yang baik, maka ikhtiarkan. Nyantri itu berarti kita diberi kesempatan dan fasilitas untuk membiasakan kebiasaan baik. Kebiasaan baik itu juga butuh belajar, butuh diistiqomahkan. Dekat dengan orang-orang yang jiwanya dekat dengan Allah, itu menentramkan.

Maka dari itu, semangat ya.. Mungkin sekarang ini kesempatan mu 🙂IMG-20180503-WA0001.jpg

Isi Formulir pendaftaranmu di sini  http://bit.ly/2jnAmFB

Daily: Become a Lecturer and Partimer

Daily: Become a Lecturer and Partimer

It had been long time i never come here.

It had been long time (perhaps, i think, haha) i never write again.

It had been long time i was busy by myself.

Sometimes, i don’t want tell anything about myself, that’s selfish i think.

But i want to remember, just because on one day i’ll read it perhaps.

 

Well, let’s to chit-chat..

By the way, i’m good and very good! Just quite busy everyday, but i enjoy it! Hehe

Sudah 7 month kesibukan itu berjalan. Time flies so fast, isn’t it? Dari pagi ke malam dan pagi lagi. But, aku bersyukur Allah memberi apa yang aku minta dan ternyata itu pula yang aku butuhkan. We need something to kill the time, right?

Ya, pengamalan pertama menjadi pengajar (red: Dosen) itu menyenangkan, tegang, dan menggelikan. Gak nyangka aja, 8 tahun jadi mahasiswa, lalu harus berdiri di depan kelas, menghadapi teman-teman mahasiswa yang seusia 😀 (jangan ketawa!).

Kebiasaan-kebiasaan mahasiswa yang sudah mendarah daging gak bisa ilang gitu aja. Baju ngantor yang masih ala mahasiswa, sepatu kets dan tas ransel yang talinya kemana-mana. Bersyukur mahasiswanya pake seragam, jadi bisa dibedain 😀 (jangan ketawa!).

Pernah suatu ketika kelepasan, lari di kampus yang mini itu. Eh, terus tiba-tiba ngerem mendadak karena baru inget posisinya bukan mahasiswa 😀 (jangan ketawa!).

Betapa, waktu 8 tahun itu begitu melekat kebiasaan-kebiasaannya. Kepikiran mau sekolah lagi. Biar gimana juga enakan sekolah dari pada kerja cuy. Bener deh. Tanya aja yang sekarang bukan mahasiswa. Pasti kangen. That’s way, aku gak mau meninggalkan dunia kampus. At least meski bekerja, tapi rasa anak kuliahan dengan tugas yang 2x lipat lebih banyak dan deadline yang gak kira-kira mepetnya 😀 (ketawa aja sekarang gapapa).

Cita-cita papah mamah kesampean deh. Alhamdulillah. Anak perempuannya jadi pengajar, entah itu guru ataupun dosen, kan sama-sama mengajar.

Cita-cita ku masih “Dokter” 😀

Kalau masih ada yang nanya, cita-citaku apa. Aku akan tetap jawab, DOKTER!

There is no imposible in the word 😀

Jam kerja ku gak kayak dosen kebanyakan yang fleksibel, cenderung ke jam kantoran yang 8 jam, kudu banget di kantor 😀

Pulang ngantor, kerja lagi. Bukan ngerjain tugas kampus sih, iya itu juga. Tapi ada kerjaan lain menanti, “JAGA KEDAI!” 😀

Dih, kebanyakan emotikon ketawanya ya. Haha

Jaga kedai jadi rutinitas harian setelah pulang dari kampus, sampai jam 9 malam. Kadang aktivitas di Kedai setelah tutup berlanjut sampai pukul 11 ke atas. Meski enggak tiap hari juga sih. Tapi yang namanya ngurusin kedai, itu kerasa banget. Mengurusi Kedai sekarang adalah salah satu cara ku menebus waktu-waktu yang telah lalu. Ketika aku sudah menerima banyak dari Pondok, tapi belum bisa memberikan manfaat apa-apa. Sebab dulu aku sibuk sendiri dengan thesis, sehingga gak banyak berkontribusi di PPMi Rabingah Prawoto. Kedai, PPMi apaan sih?

Namanya Kedai Raharjo, unit usaha Yayasan Penyantun Pramara (YPP) yang juga menaungi PPMi Rabingah Prawoto. PPMi Rabingah Prawoto itu Pondok Pesantren Mahasiswi yang di cetuskan beberapa puluh tahun lalu oleh Ibu Rabingah.

Panjang ceritanya ya.. Next aku ceritakan di lain waktu.

Allah itu emang maha Adil, maha mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya. Kita diberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita pengen. Sering bangetkan denger kata-kata itu 🙂 Tapi, aku ngerasa Allah justru kasih apa yang aku minta dan aku butuh. Thanks to Allah.

Kebayang daily kayak gitu agak menguras tenaga. Tapi, kata Ummi, tetap Lillah meski lelah 🙂 Semoga apa yang dilakukan bermanfaat untuk umat dan bangsa ini. Besar ya lingkupnya. Ya harus dong, berkontribusi dibidang pendidikan itu dampaknya luas 😀

I hope..

Sementara itu, Kedai Raharjo kami jadikan tempat untuk syiar ke masyarakat sekitar. Dakwah yang aku usahakan, meski jalannya berbeda.

Kapan-kapan aku nulis lagi about my daily, kayak vlog-vlog gitu lah. Se-selonya..

Semangat ya, selagi muda. Bermanfaat semuda mungkin.

Bye then….

 

 

 

 

Puisi : Untuk Yang Telah Mati, Tanpa Kematian

Puisi : Untuk Yang Telah Mati, Tanpa Kematian

Jika kepergian itu membawa luka seperti kematian.

Maka, mungkin akan lebih baik, akan jauh lebih mudah,

aku bangun nisanmu dalam imajinasiku.

Aku simpan itu sebagai ilusi bila bertemu.

Karena hilang dan tenggelamnya dirimu tidak akan pernah kembali.

Kehilangan itu adalah kematian dirimu tanpa jasad.

Menekan perih dalam gelap.

Menyisihkan sisa-sisa  kebahagiaan yang aku kubur bersama jiwamu.

Semoga kau tenang di sana.

Berkabungku telah usai.

Meyta Sutanto

Yogyakarta, 23 Januari 2015

Karya yang saya sesali!

Karya yang saya sesali!

Mungkin komik dengan cover di samping sudah sangat susah ditemukan di to

cover garuda 19 sahrul
Sampul Depan

ko buku 😀

Sudah 2 tahun lebih sejak komik itu diterbitkan, dan tulisan di blog ini dibuat un
tuk sebuah pengakuan.

Saya suka membaca, terutama buku fiksi yang imajinatif. Tapi waktu itu tidak tau
bagaimana para penulis itu menceritakan dalam bentuk tulisan. Sampai suatu hari, ada sebuah komunitas menulis yang kemudian menjadi tempat belajar saya. Tempat latihan fisik menulis. Akademi Bercerita yang di bentuk oleh Penerbit Bentang Pustaka.

Lalu, sampai pada sebuah kesempatan yang sama sekali tidak diduga, apalagi sempat dibayangkan. Saya kembali diberi waktu untuk menulis cerita komik tentang salah satu personel dari Tim Sepak Bola milik Indonesia. Waktu itu fans-nya sedang banyak-banyaknya.

Butuh waktu satu bulan penuh untuk menyelesaikan naskah cerita yang penulisannya mirip dengan penulisan skenario film. Dari riset lapangan, belajar peraturan serta istilah-istilah persepakbolaan dari abang saya. Yah yang pasti naskahnya itu masih banyak kurangnya, masih harus belajar banyak. Tapi, terimakasih mas Ongky ^_^.

Jadi saya hanya menulis ceritanya,sedangkan yang menggambar adalah Tim Fresh Art Studio di Bandung.

Seneng bangeeet komik ini bisa terbit. Seneeeeeng banget, akhirnya…. Bisa juga menjawab tantangan untuk belajar menulis cerita komik..

Tapi…. saya udah gak mau baca lagi. Malu! Baca sekali, saya ngakak-ngakak….

Baca kedua kali, kok malu-maluin sih ceritanya.. Cemen gitu.. Duh, ini reviewnya dari penulisnya sendiri begini. Haha

Ini karya pertama saya yang terbit, dan saya menyesalinya. Menyesal kenapa tidak maksimal, kenapa bercelah banyak. Menyesal kenapa imajinasi saya kok begitu banget. Malunya sama diri sendiri.

Semoga karya berikutnya bisa lebih baik..

Semoga bisa meluangkan waktu untuk menulis lebih banyak, menulis yang bermanfaat, yang bisa menjadi pemberat timbangan amal di hari akhir. Visioner nya sampai akhirat nih 😀

cover garuda 19 M sahrul
Sinopsis

Saat ini saya sedang riset kecil-kecilan, membedah novel-novel yang sudah pernah saya baca dari berbagai macam penulis dan genre. Berharap semoga suatu saat bisa membukukan kembali imajinasi saya. Doakan! 😀

Oya, kalau komik ini masih ada di toko buku, boleh di beli. Lalu boleh email, boleh banget kasih saran 🙂 Saya tunggu ya!

 

 

Rumus Patah Hati

Rumus Patah Hati

Ini adalah kisah tentang patah hati.

028579300_1423803967-8395

Itu kalimat awal yang saya dengar dari film yang beberapa waktu lalu ditonton. Film patah hati yang dijadikan komedi.

Lalu saya tetiba teringat dengan perasaan p
ahitnya jatuh cinta. Penulis ceritanya keren juga, bisa mensulap patah hati jadi sebuah lawakan. Eits, ini bukan review dari film itu ya.

Di sini saya juga ingin mentertawakan kepatahatian itu. Ternyata setiap momen yang pernah kita rasakan itu sangat berharga. Jadi sayang sekali kalau hal itu terlewatkan begitu saja tanpa pernah tercatat di lembar sejarah (apasih!).

Menurut saya jatuh cinta dan patah hati itu sepaket, kalau mau ngerasain jatuh cinta, berarti harus siap sama perasaan patah hati. Kalian pasti setujukan? Setujuuuuuu

Patah hati pernah menyita sebagian waktu saya di masa lalu. Kalau penulis skenario film itu bilang, “patah hati terhebat”. Mungkin maksudnya patah hati yang bikin hati ini sakit banget, terus rasanya kayak di iris-iris lalu lukanya diperas pake jeruk nipis… iiiiisssshhh…

Nyatanya emang begitu rasanya.

Belum pernah ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya kan? 😀

Kalau dulu saya ceritanya sambil nangis bombay, sekarang bisa sambil senyum-senyum. Karena sudah mulai waras dan berfikir, kenapa dulu beg* banget.

Adakalanya sesuatu perlu diceritakan untuk ditiru, namanya teladan.

Ada juga sesuatu yang diceritakan untuk diambil pelajaran dan tidak perlu dicontoh, maka namanya pengingat.

Nah, bagian saya yang kedua ini aja.

Sebutlah dulu saya berbuat kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain, yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu. Sejatinya, menurut saya saat ini, tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak bisa diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab.

Bahasanya belibet ya? Saya mau langsung tapi gak enak, karena banyak penganut pahamnya di sini 😀

Begini deh, kita terjemahkan satu-satu aja.

Kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu = PACARAN

Tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab = GAK USAH DEH PACARAN-PACARAN

Jelas begitu? 😀 Kasarnya sih begitu.. Ya maap lah kalau menyinggung para penganut paham itu. Di sini saya cuma mau memainkan peran sebagai saudara yang senantiasa mengingatkan saudaranya.

Oke, kembali ke jatuh cinta dan patah hati.

Dalam “kegiatan” yang banyak sekali penganutnya itu, (lagi-lagi menurut saya) tidak seimbang antara jatuh cinta dan patah hatinya. Yes! Gak seimbang.

Coba deh, jatuh cinta dalam “kegiatan” itu sebutlah paling lama 3 bulan. Selebihnya kemungkinan patah hati dan saling menyakiti. Kalau bisa dihitung pake rumus

n-x=y*

Dimana:

n= jumlah tahun jadian sampai kalian putus

x= jumlah bulan waktu masih sweet2nya (biasanya nih paling lama 3 bulan: hasil observasi)

y= lamanya penderitaan kalian (dalam satuan waktu) karena patah hati, nangis, berantem, belum di tambah maki-makian.

Maka semakin besar nilai N, maka akan semakin besar nilai Y. Berbanding lurus.

Patah hati itu kan banyak sebabnya, dari mulai karena perkataan yang kasar dan menyakiti, ketidak pedulian, tidak diakui dilingkungan salah seorang diantaranya, atau juga karena ditinggalkan dengan berjuta alasan. Jadi logis aja dengan rumus seperti itu ya.

Kalau sudah begitu, hati terlanjur perih, susah makan, susah tidur, murung, menyendiri. Anyway itu tanda-tanda depresi juga lho.

Yang perlu dilakukan cuma satu, di ikhlaskan. Membiarkan diri seperti itu beberapa saat, karena emosional kita juga punya hak untuk sedih, marah dan kecewa. Tapi ingat, jangan kebablasan. Itu namanya dzholim sama diri sendiri lho. Lalu, setelah itu segera tentukan goals dari hidup kita, menata hati, menata pikiran, menata hidup. Paling penting, jangan lagi terlibat dengan paham-paham masa lalu. Gak mau-kan hatinya di obrak abrik lagi dengan cara yang serupa?

Maka jatuh cintalah dengan cara yang aman.

Jatuh cinta yang paling aman adalah ketika kita siap dan bersedia untuk bertanggung jawab. Ini perasaan, jangan dianggap sesuatu yang remeh. Artinya, menikahlah.. Bukan sekedar perayaan, tapi bukti kesungguhan.

Yuk, jemput seseorang itu dengan cara yang baik-baik.

*Rumusnya masih bisa berubah ya berdasarkan asumsi yang kemungkinan bisa merubah persamaan 😀

nb: Tulisan ini boleh sekali untuk di kritik dari segi konten dan cara penulisannya.

 

Mimpi, Harapan, Niatan dan Pencapaian.

Mimpi, Harapan, Niatan dan Pencapaian.

Bukan sesuatu yang menabjukkan untuk diceritakan kepada orang lain.

 

Tulisan ini hanyalah adalah bagian dari pelepas rindu ketika belum mampu menciptakan cerita fiksi yang sebenarnya sudah tertayang di imajinasi, bak film terbaru tahun ini.

Mari kita berbicara tentang mimpi, kali ini.

Andrea Hirata, sudah pernah mengisahkannya dengan sangat manis dan mengharukan tentang mimpi yang dimiliki ikal dan teman-temannya. Saya pun begitu, kamu, dia, kita semua punya mimpi.

Bermula dari mimpi yang kemudian menjadi harapan, lalu niatan, dan berakhir pada pencapaian.

Sampai tahapan mana mimpi mu? Berapa mimpi yang gugur dan kemudian tergantikan oleh mimpi lain yang mungkin untuk terwujud?

Mungkin sudah beribu-ribu mimpi saya yang gugur dan kemudian terkubur. Tapi, tidak serta merta kemudian harapan itu pupus, banyak yang diganti dengan sesuatu yang lebih. Lebih dari yang saya ingin capai (dapatkan). Jika sudah begitu, bagaimana saya ingin mengingkari janjiNya? Dia terlalu baik, terlalu baik pada mimpi-mimpi saya. Terlalu indah menyusun skenario hidup ini.

 

Saya ini bukan siapa-siapa, belum menjadi apa-apa, hanya salah satu dari milyaran orang didunia yang memiliki banyak mimpi. Tulisan ini pun sengaja saya buat untuk menjadi pengingat bagaimana capaian itu saya raih, hanya ingin sedikit mengabadikan momen kita perjuangan itu adalah sebuah perjuangan yang ternyata tidak bisa dikatakan mudah. Ditengah-tengan kelemahan diri saya, kemalasan, ketidaktahuan saya, serta banyak lagi hal-hal yang rasanya mustahil mewujudkan mimpi itu.

Tidak banyak memang pencapaian saya, terutama di bidang akademik, apalagi diluar itu. Saya bahkan tidak merasa memiliki bakat apa-apa (menyedihkan).

Ketika masih menimba ilmu di S1 biologi UNY, rasanya seperti mimpi, tiba-tiba sampai pada penghujung waktu berakhirnya masa studi itu. Siapa yang menyangka bisa mencicipi menjadi anak magang di Zoologi LIPI? Kalau tidak ada niat dan tekad yang nekat, kaki ini tidak akan pernah berjalan ke sana untuk menemui orang-orang terbaik di bidangnya. Belajar memahami esensi siapa peneliti, bagaimana peneliti, sampai akhirnya jatuh cinta dengan hal yang dulu saya anggap “untuk apa mempelajarinya?”. Teman-teman terbaikpun saya temui ditengah-tengah perjuangan itu.

 

Mengambil keputusan double degree, lalu melanjutkan master program, juga masuk asrama putri yang mewajibkan kuliah di pagi hari juga malam hari. Entah dari mana kekuatan itu untuk menjalani ini semua. Terkadang saya masih harus mengais-ngais semangat dari berbagai tempat.

Bagi saya bukan karena seseorang itu yang hebat dengan pencapaian-pencapaiannya. Tapi cita-citanya lah yang hebat.

Bonusnya bagi saya, banyak sekali teman baik yang saya temui di setiap persinggahan itu. Orang tua yang sangat mendukung apapun yang saya cita-citakan. Guru-guru (dosen serta ustad ustadzah) dengan keilmuan masing-masing membentuk diri saya, pola pikir saya, perilaku saya. Mereka-mereka lah dengan kesungguhan hatinya mengajarkan ilmu-ilmu yang bahkan baru saya ketahui. Jikalau pun kalian melihat saya terlalu banyak celah untuk salah, itu karena diri saya sendiri. Orang tua dan guru saya adalah yang terbaik, saya yang belum mampu mencerna dengan baik apa yang mereka sampaikan. Di sinilah perjuangan itu, meneruskan ilmu yang sudah diberikan kepada adik, anak, cucu, cicit, generasi berikutnya setelah saya.

Mimpi itu belum akan berakhir, sebutlah saja ini ambisi, atau apapun itu. Saya masih menyusun mimpi itu dalam angan-angan, berdoa di dalam hati, semoga Dia berkenan mengabulkannya, mewujudkannya di dunia nyata.

Saya masih ingin melanjutkan sekolah di negeri lain, saya masih ingin menuliskan imajinasi saya kemudian membukukannya kembali, saya pun ingin membuat film dari cerita yang saya tuliskan sendiri, menjadi sutradara, penulis ceritanya. Mimpi-mimpi yang saat ini mustahil diwujudkan.

Jangan takut bermimpi, jangan takut mewujudkannya, jangan bingung dengan jalan seperti apa yang harus ditempuh. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian waktu yang akan menjadi saksinya. Jangan pikirkan pencapaiannya, tapi pikirkan bagaimana perjuangannya. Disetiap mimpi, pasti di sertai dengan bonus-bonus yang menyenangkan. Semangat untuk kamu yang sedang meraih mimpi 🙂

ps: doakan saya meraih mimpi-mimpi itu ya. Doakan…

4e18a6855fb5768caff80373730d262d
Tulip dan kincir angin