Karya yang saya sesali!

Karya yang saya sesali!

Mungkin komik dengan cover di samping sudah sangat susah ditemukan di to

cover garuda 19 sahrul
Sampul Depan

ko buku 😀

Sudah 2 tahun lebih sejak komik itu diterbitkan, dan tulisan di blog ini dibuat un
tuk sebuah pengakuan.

Saya suka membaca, terutama buku fiksi yang imajinatif. Tapi waktu itu tidak tau
bagaimana para penulis itu menceritakan dalam bentuk tulisan. Sampai suatu hari, ada sebuah komunitas menulis yang kemudian menjadi tempat belajar saya. Tempat latihan fisik menulis. Akademi Bercerita yang di bentuk oleh Penerbit Bentang Pustaka.

Lalu, sampai pada sebuah kesempatan yang sama sekali tidak diduga, apalagi sempat dibayangkan. Saya kembali diberi waktu untuk menulis cerita komik tentang salah satu personel dari Tim Sepak Bola milik Indonesia. Waktu itu fans-nya sedang banyak-banyaknya.

Butuh waktu satu bulan penuh untuk menyelesaikan naskah cerita yang penulisannya mirip dengan penulisan skenario film. Dari riset lapangan, belajar peraturan serta istilah-istilah persepakbolaan dari abang saya. Yah yang pasti naskahnya itu masih banyak kurangnya, masih harus belajar banyak. Tapi, terimakasih mas Ongky ^_^.

Jadi saya hanya menulis ceritanya,sedangkan yang menggambar adalah Tim Fresh Art Studio di Bandung.

Seneng bangeeet komik ini bisa terbit. Seneeeeeng banget, akhirnya…. Bisa juga menjawab tantangan untuk belajar menulis cerita komik..

Tapi…. saya udah gak mau baca lagi. Malu! Baca sekali, saya ngakak-ngakak….

Baca kedua kali, kok malu-maluin sih ceritanya.. Cemen gitu.. Duh, ini reviewnya dari penulisnya sendiri begini. Haha

Ini karya pertama saya yang terbit, dan saya menyesalinya. Menyesal kenapa tidak maksimal, kenapa bercelah banyak. Menyesal kenapa imajinasi saya kok begitu banget. Malunya sama diri sendiri.

Semoga karya berikutnya bisa lebih baik..

Semoga bisa meluangkan waktu untuk menulis lebih banyak, menulis yang bermanfaat, yang bisa menjadi pemberat timbangan amal di hari akhir. Visioner nya sampai akhirat nih 😀

cover garuda 19 M sahrul
Sinopsis

Saat ini saya sedang riset kecil-kecilan, membedah novel-novel yang sudah pernah saya baca dari berbagai macam penulis dan genre. Berharap semoga suatu saat bisa membukukan kembali imajinasi saya. Doakan! 😀

Oya, kalau komik ini masih ada di toko buku, boleh di beli. Lalu boleh email, boleh banget kasih saran 🙂 Saya tunggu ya!

 

 

Iklan
Rumus Patah Hati

Rumus Patah Hati

Ini adalah kisah tentang patah hati.

028579300_1423803967-8395

Itu kalimat awal yang saya dengar dari film yang beberapa waktu lalu ditonton. Film patah hati yang dijadikan komedi.

Lalu saya tetiba teringat dengan perasaan p
ahitnya jatuh cinta. Penulis ceritanya keren juga, bisa mensulap patah hati jadi sebuah lawakan. Eits, ini bukan review dari film itu ya.

Di sini saya juga ingin mentertawakan kepatahatian itu. Ternyata setiap momen yang pernah kita rasakan itu sangat berharga. Jadi sayang sekali kalau hal itu terlewatkan begitu saja tanpa pernah tercatat di lembar sejarah (apasih!).

Menurut saya jatuh cinta dan patah hati itu sepaket, kalau mau ngerasain jatuh cinta, berarti harus siap sama perasaan patah hati. Kalian pasti setujukan? Setujuuuuuu

Patah hati pernah menyita sebagian waktu saya di masa lalu. Kalau penulis skenario film itu bilang, “patah hati terhebat”. Mungkin maksudnya patah hati yang bikin hati ini sakit banget, terus rasanya kayak di iris-iris lalu lukanya diperas pake jeruk nipis… iiiiisssshhh…

Nyatanya emang begitu rasanya.

Belum pernah ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya kan? 😀

Kalau dulu saya ceritanya sambil nangis bombay, sekarang bisa sambil senyum-senyum. Karena sudah mulai waras dan berfikir, kenapa dulu beg* banget.

Adakalanya sesuatu perlu diceritakan untuk ditiru, namanya teladan.

Ada juga sesuatu yang diceritakan untuk diambil pelajaran dan tidak perlu dicontoh, maka namanya pengingat.

Nah, bagian saya yang kedua ini aja.

Sebutlah dulu saya berbuat kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain, yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu. Sejatinya, menurut saya saat ini, tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak bisa diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab.

Bahasanya belibet ya? Saya mau langsung tapi gak enak, karena banyak penganut pahamnya di sini 😀

Begini deh, kita terjemahkan satu-satu aja.

Kesalahan dengan mengakui perasaan kepada orang lain yang belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap perasaan itu = PACARAN

Tidak perlu lah menyatakan sebuah perasaan jika tidak diikuti dengan kesadaran untuk bertanggung jawab = GAK USAH DEH PACARAN-PACARAN

Jelas begitu? 😀 Kasarnya sih begitu.. Ya maap lah kalau menyinggung para penganut paham itu. Di sini saya cuma mau memainkan peran sebagai saudara yang senantiasa mengingatkan saudaranya.

Oke, kembali ke jatuh cinta dan patah hati.

Dalam “kegiatan” yang banyak sekali penganutnya itu, (lagi-lagi menurut saya) tidak seimbang antara jatuh cinta dan patah hatinya. Yes! Gak seimbang.

Coba deh, jatuh cinta dalam “kegiatan” itu sebutlah paling lama 3 bulan. Selebihnya kemungkinan patah hati dan saling menyakiti. Kalau bisa dihitung pake rumus

n-x=y*

Dimana:

n= jumlah tahun jadian sampai kalian putus

x= jumlah bulan waktu masih sweet2nya (biasanya nih paling lama 3 bulan: hasil observasi)

y= lamanya penderitaan kalian (dalam satuan waktu) karena patah hati, nangis, berantem, belum di tambah maki-makian.

Maka semakin besar nilai N, maka akan semakin besar nilai Y. Berbanding lurus.

Patah hati itu kan banyak sebabnya, dari mulai karena perkataan yang kasar dan menyakiti, ketidak pedulian, tidak diakui dilingkungan salah seorang diantaranya, atau juga karena ditinggalkan dengan berjuta alasan. Jadi logis aja dengan rumus seperti itu ya.

Kalau sudah begitu, hati terlanjur perih, susah makan, susah tidur, murung, menyendiri. Anyway itu tanda-tanda depresi juga lho.

Yang perlu dilakukan cuma satu, di ikhlaskan. Membiarkan diri seperti itu beberapa saat, karena emosional kita juga punya hak untuk sedih, marah dan kecewa. Tapi ingat, jangan kebablasan. Itu namanya dzholim sama diri sendiri lho. Lalu, setelah itu segera tentukan goals dari hidup kita, menata hati, menata pikiran, menata hidup. Paling penting, jangan lagi terlibat dengan paham-paham masa lalu. Gak mau-kan hatinya di obrak abrik lagi dengan cara yang serupa?

Maka jatuh cintalah dengan cara yang aman.

Jatuh cinta yang paling aman adalah ketika kita siap dan bersedia untuk bertanggung jawab. Ini perasaan, jangan dianggap sesuatu yang remeh. Artinya, menikahlah.. Bukan sekedar perayaan, tapi bukti kesungguhan.

Yuk, jemput seseorang itu dengan cara yang baik-baik.

*Rumusnya masih bisa berubah ya berdasarkan asumsi yang kemungkinan bisa merubah persamaan 😀

nb: Tulisan ini boleh sekali untuk di kritik dari segi konten dan cara penulisannya.

 

Mimpi, Harapan, Niatan dan Pencapaian.

Mimpi, Harapan, Niatan dan Pencapaian.

Bukan sesuatu yang menabjukkan untuk diceritakan kepada orang lain.

 

Tulisan ini hanyalah adalah bagian dari pelepas rindu ketika belum mampu menciptakan cerita fiksi yang sebenarnya sudah tertayang di imajinasi, bak film terbaru tahun ini.

Mari kita berbicara tentang mimpi, kali ini.

Andrea Hirata, sudah pernah mengisahkannya dengan sangat manis dan mengharukan tentang mimpi yang dimiliki ikal dan teman-temannya. Saya pun begitu, kamu, dia, kita semua punya mimpi.

Bermula dari mimpi yang kemudian menjadi harapan, lalu niatan, dan berakhir pada pencapaian.

Sampai tahapan mana mimpi mu? Berapa mimpi yang gugur dan kemudian tergantikan oleh mimpi lain yang mungkin untuk terwujud?

Mungkin sudah beribu-ribu mimpi saya yang gugur dan kemudian terkubur. Tapi, tidak serta merta kemudian harapan itu pupus, banyak yang diganti dengan sesuatu yang lebih. Lebih dari yang saya ingin capai (dapatkan). Jika sudah begitu, bagaimana saya ingin mengingkari janjiNya? Dia terlalu baik, terlalu baik pada mimpi-mimpi saya. Terlalu indah menyusun skenario hidup ini.

 

Saya ini bukan siapa-siapa, belum menjadi apa-apa, hanya salah satu dari milyaran orang didunia yang memiliki banyak mimpi. Tulisan ini pun sengaja saya buat untuk menjadi pengingat bagaimana capaian itu saya raih, hanya ingin sedikit mengabadikan momen kita perjuangan itu adalah sebuah perjuangan yang ternyata tidak bisa dikatakan mudah. Ditengah-tengan kelemahan diri saya, kemalasan, ketidaktahuan saya, serta banyak lagi hal-hal yang rasanya mustahil mewujudkan mimpi itu.

Tidak banyak memang pencapaian saya, terutama di bidang akademik, apalagi diluar itu. Saya bahkan tidak merasa memiliki bakat apa-apa (menyedihkan).

Ketika masih menimba ilmu di S1 biologi UNY, rasanya seperti mimpi, tiba-tiba sampai pada penghujung waktu berakhirnya masa studi itu. Siapa yang menyangka bisa mencicipi menjadi anak magang di Zoologi LIPI? Kalau tidak ada niat dan tekad yang nekat, kaki ini tidak akan pernah berjalan ke sana untuk menemui orang-orang terbaik di bidangnya. Belajar memahami esensi siapa peneliti, bagaimana peneliti, sampai akhirnya jatuh cinta dengan hal yang dulu saya anggap “untuk apa mempelajarinya?”. Teman-teman terbaikpun saya temui ditengah-tengah perjuangan itu.

 

Mengambil keputusan double degree, lalu melanjutkan master program, juga masuk asrama putri yang mewajibkan kuliah di pagi hari juga malam hari. Entah dari mana kekuatan itu untuk menjalani ini semua. Terkadang saya masih harus mengais-ngais semangat dari berbagai tempat.

Bagi saya bukan karena seseorang itu yang hebat dengan pencapaian-pencapaiannya. Tapi cita-citanya lah yang hebat.

Bonusnya bagi saya, banyak sekali teman baik yang saya temui di setiap persinggahan itu. Orang tua yang sangat mendukung apapun yang saya cita-citakan. Guru-guru (dosen serta ustad ustadzah) dengan keilmuan masing-masing membentuk diri saya, pola pikir saya, perilaku saya. Mereka-mereka lah dengan kesungguhan hatinya mengajarkan ilmu-ilmu yang bahkan baru saya ketahui. Jikalau pun kalian melihat saya terlalu banyak celah untuk salah, itu karena diri saya sendiri. Orang tua dan guru saya adalah yang terbaik, saya yang belum mampu mencerna dengan baik apa yang mereka sampaikan. Di sinilah perjuangan itu, meneruskan ilmu yang sudah diberikan kepada adik, anak, cucu, cicit, generasi berikutnya setelah saya.

Mimpi itu belum akan berakhir, sebutlah saja ini ambisi, atau apapun itu. Saya masih menyusun mimpi itu dalam angan-angan, berdoa di dalam hati, semoga Dia berkenan mengabulkannya, mewujudkannya di dunia nyata.

Saya masih ingin melanjutkan sekolah di negeri lain, saya masih ingin menuliskan imajinasi saya kemudian membukukannya kembali, saya pun ingin membuat film dari cerita yang saya tuliskan sendiri, menjadi sutradara, penulis ceritanya. Mimpi-mimpi yang saat ini mustahil diwujudkan.

Jangan takut bermimpi, jangan takut mewujudkannya, jangan bingung dengan jalan seperti apa yang harus ditempuh. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian waktu yang akan menjadi saksinya. Jangan pikirkan pencapaiannya, tapi pikirkan bagaimana perjuangannya. Disetiap mimpi, pasti di sertai dengan bonus-bonus yang menyenangkan. Semangat untuk kamu yang sedang meraih mimpi 🙂

ps: doakan saya meraih mimpi-mimpi itu ya. Doakan…

4e18a6855fb5768caff80373730d262d
Tulip dan kincir angin
Diary…

Diary…

P_20160416_144245Hai, siapa diantara kalian yang masih menulis di buku diary? Sudah sangat lama sejak SMP terakhir kali menulis uneg-uneg di buku diary. Hari ini, saat menempuh pendidikan pascasarjana mulai menulis lagi. Sudah tua ya rasanya. Hiks

Bedanya, buku diary kali ini gak perlu gembok-gembokan. Lagian siapa yang mau membaca catatan di usia begini. Yang isinya juga sudah lebih complicated ya..

Apa coba yang di bahas? Penelitian yang entah mengalami kemajuan kapan, pemikiran tentang pernikahan yang makin ruwet, menuliskan kembali impian-impian yang belum tercapai. Sudah ndak ada kali ya cerita “dear diary, aku suka banget sama dia. Aku deg-degan tiap papasan sama dia.” 😀

Menulis diary sebenarnya bisa dijadikan media untuk mengasah kemampuan menulis, lho. Bermula dari kisah nyata, belajar mengalirkan kata lewat jemari. Suatu saat akan berguna, mungkin aja kedepannya bisa lebih lincah menulis cerita pendek, atau pun novel. Namanya belajar pasti ada capeknya ya, tapi kalau belajarnya menyenangkan capeknya juga bisa jadi menyenangkan. Yuk, menulis…

 

Cerita dari 2.930 mdpl

Cerita dari 2.930 mdpl

Merbabu dari Merapi
Doc. Pribadi (Meyta, 2013)

Pendakian pertama menuju puncak kawah Gunung Merapi yang awesome banget! Perjalanan dari basecamp menuju puncak dimulai dari jam 12 malam. Sebelumnya aku memang belum baca-baca soal jam ideal untuk mendaki, jadi ya terima aja kalau diajak naik tengah malam dengan suhu dibawah 20 derajat, dan ternyata jam ideal setiap pendaki itu beda-beda.

Orang bilang ini perjalanan konyol. Sebagian juga bilang kalau aku cari mati. “Refreshing di gunung? Kayak gak ada tempat lain aja mbak.” Kata-kata yang agak kejam untuk pendakian pertama, bikin down. Tapi emang iya sih persiapan secara fisik minim banget, logistik dan peralatan standar mendaki juga pas-pasan. Namanya juga pendaki pemula yang udah terlanjur kepengen merasakan hawa puncak. Mendakikan learning by doing. Semakin banyak mendaki, semakin tau apa yang harus dibawa dan apa yang harus dipersiapkan. Sayangnya belum pernah ada yang kasih tau kalau mendaki itu yaah.. “sesuatu”.

            Aku kira langkah kaki pertama ini bakal seru diiringi dengan sorak sorai gegap gempita orang-orang yang kegirangan dapat izin (memaksa) dari orang tuanya untuk menyusuri lereng hingga puncak gunung. Perasaan itu kayaknya cuma punya aku, karena ekspektasiku, NOL besar! Anggota tim yang lain sepertinya kompak buat berdiam diri, menatap langkah kaki masing-masing sembari mengatur nafas yang sudah mulai putus-putus. Bukan langkah kaki mereka yang saling kejar-kejaran, tapi nafas diantara mereka saling memburu satu sama lain. Situasi kayak gini emang gak pas kalau mau rame-rame, energi bicaranya lebih baik disimpan untuk bisa melangkah lebih jauh, jauh dan jauh lagi. Saat mendaki seperti inilah persiapan fisik sebelumnya itu punya peran besar, minimal 1 minggu sebelum pendakian kita harus latihan fisik biar gak gampang capek kayak kakek-kakek encok.

            Ngomong-ngomong soal izin, itu kayaknya jadi hal keramat deh waktu naik gunung. Tiba-tiba jadi horor kalau ada temen yang gak dapat izin mendaki dari orang tuanya. Izin itu bentuk kepercayaan orang tua ke kita buat bertanggungjawab jaga diri sendiri di jungle yang sebenarnya. Ibaratnya, izin itu tiket kamu buat mendaki. Kalau belum dapat jangan coba-coba mendaki deh, itu bentuk sikap yang gak bertanggung jawab banget. Selain membahayakan diri sendiri, juga membahayakan tim mu. Perasaanmu akan di hantui rasa was-was dengan ketidaktahuan orang tua. Sereeem!

            Masih pertama, jadi masih polos ya. Gampang banget dikibulin, “masih lama ya?” Pertanyaan itu akan selalu muncul di setiap meter kaki melangkah. Rasanya kok udah jauh banget jalan tapi gak nyampe-nyampe. “Enggak kok tinggal dikit lagi.” Kayaknya mereka sudah jawab itu sejak kami lewat pos satu, dua dan seterusnya. Ternyata semakin aku bertanya, maka semakin banyak teman-teman seperjalanan yang berbohong. Tapi bersyukur banget kali ini dibohongi, dibalik kebohongan mereka itu justru membantu menumbuhkan semangat untuk terus berjuang. Iya, puncak memang sudah dekat. Sejak kamu dari basecamp seenggaknya kamu sudah dekat dengan puncak dibandingkan dengan mereka yang ada di pesisir pantai sana.  Seenggaknya mereka berusaha mengeluarkan kata-kata yang positif. Coba bayangin kalau mereka ngejawab “Masih jauh banget lah, kira-kira masih 6 jam lagi.” Jalan kaki 6 jam?!!!!!!!!!

            Kadang disela-sela lelah yang mendera itu, terselip penyesalan kenapa dan untuk apa bersusah payah mendaki ditengah malam yang dinginnya membekukan ini. Menantang bahaya yang cuma bermodalkan 1 nyawa, untuk apa? Kalau ada apa-apa gimana. Kayaknya aku harus mengakui kalau ini konyol. Tapi, selalu ada tangan yang terulur untuk menarik semangat itu bangkit, dari kata-kata yang menyentil pedas “awas lu ya besok, jangan ngaku naik gunung merapi kalau belum sampai puncak” juga yang penuh pengertian “jalannya pelan-pelan aja, nanti juga kita sampai kok.” Iya juga ya, kita cuma perlu melangkah, kalau lelah yang kita perlu istirahat. Selama kita melangkah, maka puncak bukan sesuatu yang mustahil. Selama tubuh mu belum menua dan renta, nafas mu masih kuat memburu, apa yang salah jika memaksa kaki ini berjalan lebih jauh? Kecuali satu hal, situasi lingkungan yang gak mendukung. Erupsi, badai atau kondisi lain yang gak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Maka hentikan segera!

            Teman-teman punya andil besar untuk kita bisa mencapai puncak impian. Sedikit yang mereka ucapkan, tapi energinya besar. Detik ke menit, langkah demi langkah, tanjakan dan turunan, teman tim dalam pendakian yang punya banyak pengaruh besar. Kebayang waktu jatuh bangun menuju bibir kawah gunung merapi. Karena teman yang baik itu yang membantumu naik menuju puncak, bukan yang menantimu di puncak. Karena mereka aku menangis haru diantara asap belerang. Cerita dari 2.930 mdpl.

Jembatan Pelangi Orchid

Jembatan Pelangi Orchid

“Musim hujan begini?” Arka terkejut mendengar permintaan Mala.

“Ya kapan lagi Ka? Dia cuma ada di musim penghujan.” Ujar Mala merayu.

“Kamu sadar gak, cuacanya sekarang lagi buruk banget, Mal. Gak mau ah!”

“Sekarang lagi gak buruk, Ka. Lihat deh langitnya cerah kok.” Bujuk Mala gigih. Keinginan Mala untuk melihat si cantik bidadari sangat kuat. Menurutnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berkunjung kembali. Malaxis oculata adalah anggrek tanah yang umum dengan nama anggrak pelangi. Mala ingin mengulangi kejadian yang sama seperti tahun sebelumnya, saat ia melakukan pendakian singkat di Bukit Plawangan, Yogyakarta. Mala ingin melihat Maxalis di sepanjang lengkungan pelangi itu.

****

    Akhirnya di sini lah Arka dan Mala, di depan gerbang selamat datang bukit Plawangan. Mala berhasil mengajak Arka untuk menyusuri setiap semak belukar yang ada di bukit ini untuk sebuah foto. Ya setidaknya seperti itulah apa yang ada dibenak Arka sebelum Mala menceritakan rahasia besarnya yang ada di bukit Plawangan ini.

“Mal, gak usah ngayal yang aneh-aneh deh. Bentar lagi mau ujan nih.” Arka berulang kali menengadahkan wajahnya melihat langit yang semakin pekat oleh awan nimbostratus.

“Justru ini saatnya, Ka. Aku pengen nunjukin ke kamu sisi lain dari Malaxis.” Ujar Mala antusias.

“Jas ujan, senter, logistik, air, korek, udah semua?” Tanya Arka memastikan dengan wajah cemas, karena dirinya sadar betul bahwa perjalan ini sangat beresiko dengan curah hujan yang tinggi.

“Sip, udah.”

Keduanya kemudian berjalan melalui pos untuk melaporkan pendakian singkat mereka sore ini.

“Maaf mas, ini cuacanya sedang buruk. Masih mau naik ke atas?” Tanya juru kunci daerah tersebut.

“Cuma sebentar kok, Pak.” Mala segera menjawab sebelum Arka membatalkan perjalanan ini.

“Oh ya sudah mbak, hati-hati ya. Jalannya licin.”

“Siap, Pak.” Ujar Mala mantap dan kemudian mereka berdua memulai perjalanannya.

“Aku di depan ya, Ka.” Ujar Mala basa basi karena Arka hanya diam saja, Mala mengerti sekali saat ini dia sedang menantang maut.

Arka dan Mala berteman sejak pertama kali mereka masuk ke dalam unit kegiatan mahasiswa orchid yang ada di kampus. Semua yang tergabung menjadi anggota adalah pecinta anggrek dari hibrid hingga anggrek hutan yang hanya muncul pada musim tertentu, termasuk mereka berdua. Mereka rela berpayah-payah menyusuri semak belukar, mendaki gunung berhari-hari, demi dapat melihat kesayangan mereka tumbuh pada musim itu. Seperti halnya Mala saat ini, namun kali ini perjalanan Mala berbeda. Tahun lalu gadis yang memiliki perawakan mungil itu mendapat pengalaman yang tidak terduga ketika dirinya terpisah seorang diri jauh dari teman-temannya yang ikut mengamati anggrek.

“Arka?” Panggil Mala sembari terus berjalan ke depan tanpa menoleh.

“Arka?” Panggilnya sekali lagi.

“Hmm..” Hanya itu suara yang dia dengar dari belakang. Mereka mulai berjalan naik, nafasnya mulai tersengal-sengal satu dua. Udara disekitar semakin dingin, angin berhembus pelan, kilat menyala tanpa suara. Sebentar lagi, batin Mala. Selama pendakian kebanyakan orang memilih diam menikmati perjalanan. Selain lebih hikmat, juga dapat menghemat energi untuk perjalanan yang panjang.

“Arka?” Panggilnya lagi tanpa menoleh, seketika itu hujan turun perlahan.

“Arka?” Tidak ada jawaban seperti tadi dan akhirnya Mala menoleh, tidak ditemukan siapa-siapa di belakangnya. Hujan mulai menghujam tanpa ampun. Tinggal beberapa meter lagi akan ada goa jepang. Mala bergegas naik lebih ke atas untuk mencapai goa, tapi hujan semakin deras. Menyerang tanpa ampun. Jalanan semakin bertambah licin, beberapa kali Mala terpeleset  jatuh.

Kejadian ini persis seperti waktu itu, pikir Mala. Saat dirinya sendiri terjebak hujan yang sangat deras, alat komunikasinya pun tidak bisa digunakan. Tidak ada sinyal, bahkan sekedar untuk mengirim pesan SOS. Akhirnya Mala sendirian terpaksa berteduh di dalam Goa jepang yang ada. Goa itu sengaja dibangun pada zaman dulu sebagai tempat berlindung. Dulu, setahun yang lalu Mala ketakutan seorang diri melawan gelap dan dingin yang menusuk kulit. Goa itu gelap gulita, tidak terlihat sama sekali ujungnya.

Kali ini dia sengaja membawa Arka untuk memperlihatkan sesuatu yang tersimpan dibalik gelapnya goa itu. Sayang sekali sepertinya dirinya sengaja dipisahkan dari Arka oleh alam. Mala berharap Arka baik-baik saja. Alam sepertinya tidak merestui niatnya untuk membagi hal itu pada Arka. Mala menyalakan senter dan berusaha mencari-cari jamur itu. Jamur yang akan membawanya menuju jembatan pelangi. Jamur berwarna kuning keemasan yang dulu tidak sengaja dicabutnya. Jamur itu mengeluarkan wangi yang tidak biasa seperti jamur-jamur lainnya. Tidak lama Mala seperti terhipnotis, matanya mulai berkunang-kunang karena aroma jamur itu, pandangannya mulai kabur, lalu gelap.

****
“Jembatan pelangi!” Pekik Mala dalam hati. Jembatan yang terdiri dari warna-warni pelangi, Mala berjalan ragu, melintasinya perlahan. Bening sperti kaca, tapi bukan. Ini pelangi! Mengalir air dibawahnya dengan bunyi air yang gemericik seru.

“Ini benar-benar pelangi.” Ujar Mala meyakinkan dirinya sendiri. Hati-hati sekali dia melangkah, takut terjatuh. Seandainya Arka melihat semua ini, Mala menyayangkan dirinya harus terpisah dengan Arka dalam perjalanan. Di ujung jembatan Mala melihat kemilaun cerah, tidak sabar rasanya untuk bisa mencapai penghujung jembatan itu. Perlahan tapi pasti terlihat hamparan Malaxis oculata dengan tangkai yang menjulang. Tidak hanya itu, sisi lain juga dipenuhi dengan Aerides houlletiana, warna kuningnya menyala menyilaukan mata. Semakin jauh Mala berjalan semakin banyak jenis anggrek yang baru pertama kali dilihatnya. Lebih indah dari anggrek hibrid hasil persilangan itu. Bahkan mungkin semua anggrek dari musim apapun ada di sini.

Foto! Pekiknya dalam hati. Bergegas Mala mengeluarkan kamera DSLR keluaran yang paling baru, dibukanya penutup lensa. Tapi seperti ada yang salah, berkali-kali tombol “on” ditekannya, kameranya tetap tidak mau menyala. Dunia apa sebenarnya ini? Keindahan di depan matanya saat ini tidak mampu diabadikannya. Entah kapan lagi bisa kembali ke sini, pikir Mala murung. Bagaimana Arka bisa mempercayai ceritanya kali ini. Sekali lagi diedarkannya pandangan kesegala pejuru, menikmati selagi bisa menikmati. Merekam sebanyak mungkin momen berharga ini. Mungkin memang ini semua hanya akan menjadi rahasianya. Atau mungkin tempat ini hanya memilihnya untuk mengetahui ini semua? Biarkan alam yang memilih. Ujar Mala berkata pada dirinya sendiri. Terlihat titik gelap diseberang jalan dia berdiri, titik itu seolah menyedotnya untuk masuk ke dalam. Mala terhisap oleh titik gelap itu.

****

“Mala?” Seseorang menepuk-nepuk pipinya menyadarkan.

“Arka?” Ujar Mala bangun, hampir terlonjak karena terkejut.

“Ya ampun Mala, aku nyariin kamu. Ternyata di sini, aku hampir mau turun lagi lapor ke juru kunci.” Ujar Arka dengan wajah yang khawatir.

“Arka, kali ini aku melihat itu lagi.” Berharap Arka percaya dengan ceritanya kali ini. Mala sudah pernah menceritakan pengalaman pertamanya pada Arka ketika dia melintasi jembatan pelangi itu. Tapi Arka menganggap dirinya terlalu banyak berkhayal.

“Sudah ya kita turun dulu. Sudah terlalu malam kita di sini, lagian kamu basah kuyup begini.”

Mala sadar dirinya tidak bisa memaksa Arka untuk percaya pada apa yang tidak Arka lihat. Akhirnya Mala mengikuti saran Arka untuk turun dan tidak lagi banyak bicara. Dirinya terlalu lapar untuk bercerita yang nantinya hanya akan dianggap khayalan. Mala berusaha berdamai dengan dirinya sendiri untuk menyimpan keindahan itu seorang diri.

Sesampainya di bawah, Mala segera mengganti bajunya yang basah. Mala dan Arka pun kembali ke kota Jogja. Arka kemudian menghentikan motornya di salah satu rumah makan, tempatnya nyaman. Akhirnya Arka paham kalau aku sangat lapar, ujar Mala dalam hati sambil terkekeh. Dia sudah melupakan keinginannya bercerita, atau lebih tepatnya memaksa Arka percaya pada ceritanya.

“Ngapain senyum-senyum sendiri gitu, Mal?” Tanya Arka.

“Ha? Enggak papa, kamu ngerti juga kalau aku lapar.”

“Oh kamu lapar? Aku malah gak tau, kalau aku emang laper banget.” Raut mukanya serius. Mala salah tingkah. Aku terlalu GR ternyata, batinnya.

“Ka, tadi kok kita bisa pisah di jalan?” Tanya Mala penasaran, setelah mereka mendapat meja.

“Aku berhenti sebentar, minum. Taunya kamu udah gak kelihatan.” Jawab Arka.

“Oh..” Ujar Mala pendek.

“Mal..”

“Hmm?”

“Aku tadi juga lihat, apa yang dulu kamu bilang, awesome journey.” Ujar Arka berbisik.

Mala memekik terkejut, matanya membulat tidak percaya.

**SELESAI**

Nb: Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” yang di selenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Vonis Kematian

Vonis Kematian

Author

Meyta Sutanto

meyqiyut@yahoo.com


Ilustrasi oleh: Budi Setiawan

“Win!!” Terdengar teriakan perempuan dengan suara cempreng dari kejauhan. Aku menoleh sekilas, Tiara berlari mendekatiku, bergegas aku melangkah lebih cepat menuju parkiran motor sambil menghisap dalam-dalam rokok yang masih menyala.

“Win! Tungguin gue!” Teriaknya lagi. Terpaksa aku berhenti menunggunya. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menghindar untuk sementara waktu.

“Kenapa sih lo? Gue mau nebeng!” Ucapnya padaku setengah marah. Aku diam saja, mengisyaratkannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tiara adalah sahabatku sejak SMA, beruntung kami dapat bersama kembali dalam satu kampus dan jurusan yang sama.

“Win, gue seneng deh. Waktu responsi anatomi manusia, gue sukses jawab semua bagian mayat yang ditunjuk kak Lukman.” Ujarnya mengoceh di belakangku. Aku sempat menelan ludah ketika Tiara mengucapkan kata mayat persis di telingaku.

“Win, lo kok diam aja sih? Sariawan?” Aku hanya mengangguk menjawabnya.

“Makanya Win, sering-sering makan buah dong. Jangan cuma ngisep rokok doang kerjaan lo. Calon dokter kok gak bisa jaga kesehatan. Calon dokter kok ngerokok!” Ujarnya, lagi-lagi aku merasa disentil. Aku menghentikan mobilku persis di depan pagar rumah Tiara.

“Makasih ya, Win. Lo jangan lupa banyakin konsumsi vitamin C ya.” Kata Tiara mengingatkan, sekali lagi aku hanya mengangguk.

Aku melaju pelan, meninggalkan Tiara. Sebelum ujian responsi, aku pergi menemui salah satu dosenku. Beliau adalah dokter spesialis bedah mulut, drg. Arini, M.Sc. Aku mencoba berkonsultasi masalah pribadiku. Sudah 3 bulan sariawan di lidahku tidak kunjung sembuh. Mulutku baunya kian hari makin tidak sedap. Bertambahnya hari makin meluas lukanya. Seringkali aku diam, menggeleng atau mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang lain. Terkadang memakai masker, karena aku sendiri risih dengan kondisi mulutku saat ini.

“Erwin, sejak kapan kamu merokok?” Tanya beliau ketika selesai melakukan pemeriksaan padaku. Aku tidak heran beliau tau aku merokok, meski tidak pernah sekalipun aku menghisap batang tembakau itu di area kampus. Semua cukup terlihat dari penampakan diriku dengan badan kurus dan bibir yang menghitam.

“Hampir 7 tahun bu.” Jawabku layu.

“Itu waktu yang cukup singkat untuk sebuah penyakit, dengan sangat menyesal harus saya sampaikan diagnosa ini.” Ujar bu Arini tertahan sejenak. Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan nyali untuk mendengar kata selanjutnya dari Dokter Arini.

“Memang perlu observasi lebih lanjut dari penyakit yang kamu derita ini. Tapi saya rasa, ini bukan sariawan biasa.” Lanjutnya tetap tenang.

“Saya menduga, kamu terkena kanker mulut ganas. Tapi hanya dugaan sementara, tentunya kamu harus memeriksannya lagi ke rumah sakit dengan peralatan yang lebih lengkap.” Suaranya yang terdengar damai itu justru seperti sambaran petir bagiku. Kanker mulut? Ganas? Apa ini ada kaitannya dengan kebiasaanku menghisap tembakau?

“Erwin, kamu oke?” Tanya Dokter Arini, membuyarkan lamunanku.

“Tidak perlu cemas, segera saja diperiksakan agar lebih cepat ditangani.” Ujarnya, ketika melihat wajahku yang tiba-tiba memucat. Aku bergeming. Dokter Arini menyodorkan sebuah kartu nama.

“Ini teman kuliah saya dulu, dia lebih expert dalam hal ini. Temui dia di rumah sakit tempatnya praktek. Semoga bisa membantu kamu, Erwin.” Aku mengangguk berpamitan dan keluar ruangannya. Rasanya bumi bergoncang tanpa henti. Tubuhku sempoyongan, pandanganku sedikit pudar karena air yang menganak di mataku.

Setelah mengantar Tiara, aku melaju mobilku menuju rumah sakit yang disarankan oleh Dokter Arini.

“Selamat siang, saya ingin membuat janji dengan Dokter Nugroho.” Ucapku pada resepsionis rumah sakit.

“Atas nama siapa?” Tanya suster itu.

“Erwin.” Jawabku singkat.

“Oh Pak Erwin, mari saya antarkan. Dokter Arini sudah menelpon untuk segera menangani Pak Erwin.” Ujar suster itu. Aku sedikit terkejut, apa sebegitu daruratnya kah keadaanku ini hingga Dokter Arini pun turun tangan langsung? Tanyaku dalam hati. Aku bukan orang awam di dunia kedokteran. Aku hampir memasukin semester 6, sedikit banyak aku mengerti tindakan yang dilakukan dengan segera ini.

Akhirnya, kini aku berada di ruangan Dokter Nugroho, bersiap untuk vonis kematian.

*SELESAI*

n/b: Tulisan ini diikut sertakan pada lomba Diary Sang Zombigaret